Kisah-kisah Nabi Muhammad SAW yang Dapat Menggugah Hati Setiap Muslim

Kisah Nabi Muhammad SAW – Allah SWT telah mengirim seorang sosok makhluk yang pantas kita jadikan panutan sebagai umat muslim. Banyak yang bisa kita ambil dari Rasulullah SAW. Akhlak Nabi yang begitu agung merupakan salah penyebab orang yang belum mengenal islam ingin lebih mengenal lebih jauh tentang islam dan pada akhirnya mereka bersyahadat untuk memeluk Islam. Allah SWT lah yang membuatnya demikian.

Maka dari itu, kita selaku umat Nabi sudah sepantasnya untuk meniru akhlak Beliau. Kita bisa mengambil teladan tersebut dari kisah-kisahnya. Berikut beberapa kisah Nabi Muhammad SAW yang akan mengugah hati.

Kisah Nabi Muhammad dengan Seorang Wanita Tua Pembenci Rasulullah

kisah nabi muhammad saw dengan seorang nenek tua yang membenci Rasulullah SAW

diindrihijab.com

Pada suatu hari di sebuah gurun pasir melintaslah seorang wanita yang sudah tua dengan membawa beban yang cukup berat. Meskipun beban yang dibawa terbilang berat sehingga membuat ia kepayahan, tapi ia tetap berusaha keras untuk membawa barang bawan dengan seluruh tenaga yang ia punya. Selang beberapa waktu datanglah seorang laki laki muda berniat untuk membantu wanita tua tersebut mengangkat barang bawaannya. Wanita itu pun menerima tawaran laki laki muda tersebut dengan senang hati. Selanjutnya, laki-laki tersebut mengangkat barang bawaannya dan mereka berjalan dengan beriringan.

“Saya sangat senang sekali anak muda, kamu mau menemani dan membantu saya.” ujar wanita tersebut. Wanita itu ternyata senang berbicara. Laki-laki yang membantu wanita tersebut dengan sabar mendengarkan segala apa yang ia ucapkan sambil tersenyum tanpa memotong pembicaraan.

“Anak muda, saya mempunyai satu permintaan, selama kita dalam perjalanan. Jangan sekali-kali berbicara apapun mengenai Muhammad! Karena dia, saya merasa terganggu dengan pemikirannya dan tidak ada lagi rasa damai!” kata wanita tersebut kepada laki-laki muda yang membantunya.

“Saya merasa kesal karenanya, kemanapun saya pergi, saya selalu mendengar namanya. Dia berasal dari suku dan keluarga yang terpercaya, namun tiba-tiba ia memecah belah orang-orang dengan mengatakan bahwa tuhan itu hanya ada satu.” lanjut wanita itu.

“Dia menjerumuskan orang-orang yang miskin, lemah dan budak-budak. Banyak orang yang berpikir bahwa mereka akan menemukan kebebasan dan kekayaan jika mengikuti jalannya,” kata wanita tersebut melanjutkan pembicaraannya dengan nada yang kesal.

“Dia memutarbalikan kebenaran, dengan cara itu merusak anak-anak muda. Dia memberik keyakinan kepada mereka bahwa mereka itu sebenarnya kuat dan ada suatu tujuan yang bisa diraihnya. Jadi jangan sekali-kali kamu membicarakan mengenai Muhamad, anak muda!”. lanjut wanita tersebut dengan nada yang penuh kebencian.

Selang beberapa waktu, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Selanjutnya laki-laki tersebut menurunkan barang bawaan wanita tua itu. Sambil tersenyum wanita tersebut mengucapkan terima kasih karena sudah membantunya.

“Terima kasih banyak, anak muda. Kamu sangat baik hati, senyuman dan kemurahan hatimu jarang saya temukan. Biarkan saya memberikan satu nasihat kepadamu. Jauhilah Muhammad! Jangan pernah memikirkan segala perkataannya bahkan mengikuti jalannya. Jika kamu melakukan itu semua, kamu tidak bisa pernah mendapatkan ketenangan, nanti yang akan kamu dapatkan hanyalah masalah.” kata wanita tua tersebut dengan maksuda memberikan nasihat kepada anak muda tersebut.

Kemudian, laki -laki tersebut membalikan badan untuk segera pergi, namun wanita itu menghentikannya, “Maaf, saya belum tahu namamu, sebelum kita berpisah, bisakah kamu memberi tahuku namamu, anak muda?”. Lalu anak muda tersebut memberi tahu namanya dan wanita tua itu terkejut mendengarnya.

“Maaf anak muda, apa tadi yang kamu katakan? Perkataanmu tidak terlalu terdengar jelas. Maklum telingaku sudah semakin tua, sering kali saya tidak bisa mendengar dengan baik. Tadi kamu mengucapkan muhammad?.” tanya wanita tua tersebut untuk meyakinkan pendengarannya.

“Iya, saya Muhammad,” anak muda itu mengulang kembali perkataannya kepada wanita itu.

Seketika wanita tua tersebut terpaku memandangi wajah Rasulullah SAW. Tak lama kemudian, keluarlah kata-kata dari mulut wanita tersebut, ” Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.

Dengan kewibawaan, kesabaran, dan kerendahan hari Rasulullah SAW, beliau dapat mengubah hati seorang wanita yang tadinya sangat membenci Rasulullah SAW menjadi mencintainya hanya dalam waktu yang singkat. Betapa agungnya akhlak Rasulullah SAW.

Kisah Nabi Muhammad dan Pengemis Buta

Kisah Nabi Muhammad SAW dengan seorang pengemis Yahudi yang buta

youtube.com

Di sebuah pasar Madinah, tepatnya di sudut pasar hiduplah seorang pengemis Yahudi yang buta. Setiap harinya ia selalu berkata kepada orang-orang yang mendekatinya, ” Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu tukang sihir, orang gila dan juga pembohong. Jika kalian mendekatinya, maka kalian akan terpengaruh olehnya.” kata-kata tersebut selalu ia ucapkan kepada orang-orang untuk tidak mendekati Nabi Muhammad SAW.

Tetapi, Rasulullah SAW selalu mendatanginya dengan memjbawakannya makanan di setiap pagi. Beliau pun selalu menyuapinya makanan dengan tanpa mengucapkan kata sepatah pun sehingga pengemis buta itu tidak mengetahui bahwa yang setiap harinya memberikan makan itu adalah Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut selalu Rasulullah SAW lakukan sampai beliau wafat.

Namun, setelah Rasulullah SAW wafat, tidak ada lagi orang yang memberikan dan menyuapinya makanan di setiap paginya. Suatu saat, datang sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW yaitu Abu Bakar RA mengunjungi anaknya Aisyah RA yang juga merupakan istri Rasulullah SAW.

“Anakku Aisyah, adakah kebiasaan kekasihku yang belumku kerjakan selama ini?” tanya Abu Bakar RA kepada anaknya.

“Wahai Ayahku, engkau merupakah seorang ahli sunnah yang hampir setiap kebiasaan kekasihmu yang selalu dirimu lakukan kecuali satu saja.” sahut Aisyah RA.

“Apakah itu anakku?”, tanya ayahnya kepada Aisyah RA.

“Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu pergi ke sudut pasar Madinah sambil membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi yang buta itu”, sahut Aisyah RA.

Pada keesokan harinya, Abu Bakar RA berangkat pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis buta itu. Saat itu Abu Bakar pun langsung menyuapinya, namun pengemis tua itu marah karena ia merasa ada yang aneh.

“Kamu siapa?!” ujar sang pengemis itu kepada Abu Bakar RA.

“Aku adalah orang yang biasa menyuapimu setiap pagi.” jawab Abu Bakar RA.

“Bukan! Kamu bukanlah orang yang sering mendatangi dan menyuapiku.” sahut pengemis tua itu.

“Jika ia datang kepadaku, aku tidak perlu memegang dan tidak perlu juga mengunyah makanan ini karena ia selalu menyuapiku, namun terlebih dahulu ia akan menghaluskan makanannya dan selanjutnya ia akan memberikannya kepadaku setelah makanan tersebut halus”, lanjut pengemis itu untuk memberikan penjelasan.

Seketika Abu Bakar RA tidak bisa menahan air matanya seraya berkata, “Sebenarnya aku bukanlah orang yang biasa mendatangimu. Aku merupakan salah satu sahabat dari orang yang selalu menyuapimu itu. Ia adalah Muhammad SAW.”

Pada saat itu ia pun ikut menangis mendengar penjelasan Abu Bakar RA. Ia menyesali perbuatannya yang selalu menghina dan memfitnahnya. Namun Rasulullah SAW tidak sekalipun membalas perbuatan itu. Walaupun ia selalu dihinanya, Beliau selalu mendatangi pengemis buta itu untuk memberikan makan dan menyuapinya. Dan akhirnya pengemis Yahudi yang buta itu bersyahadat di hadapan Abu Bakar RA.

Kisah Sedih Nabi Muhammad dan Perilaku Penduduk Tha’if

kisah Nabi Muhammad SAW yang dilempari batu oleh penduduk Tho'if sehingga memperoleh luka.

bamboroo.blogspot.com

Setelah Abu Thalib yang selalu menjadi pelindung Nabi Muhammad SAW wafat, ganggun para kafir Quraisy terhadap Rasulullah semakin menjadi-jadi. Dan saat itu Beliau pun memutuskan untuk meninggalkan Mekkah dan pergi ke sebuah wilayah yang bernama Tha’if. Nabi Muhammad SAW berharap mendapat dukungan dari penduduk Tha’if dan juga dapat sambutan yang baik ajakan Beliau untuk masuk agama islam. Beliau pun pergi bersama anak angkatnya yang bernama Zaid bin Haritsah,

Kabilah  yang saat itu mempunyai kuasa serta memiliki ekonomi dan fisik yang cukup memadai adalah Bani Tsaqif. Sehingga kabila tersebut merupakan kabilah terbesar di Tha’if. Ketika itu Rasulullah SAW mengetahui hal tersebut dan dengan segera menemui pemimpin Bani Tsaqif yang terdiri dari tiga bersaudara. Nabi Muhammad SAW pun menjelasakan maksud kedatangannya dan sekaligus mengajak mereka untuk memeluk agama Islam. Tetapi respon mereka sungguh tidak sesuai harapan Rasulullah SAW.

Salah satu dari pemimpin Tha’if itu berkata, “Apa Allah tidak bisa mendapatkan seseorang yang diutus selain engkau?”

” Di sini kami hidup secara turun-menurun. Tidak ada penderitaan dan juga kesusahan. Kami di sini hidup berkecukupan dan makmur. Kami merasa bahagia dan senang. Maka dari itu, kami tidak memerlukan agamamu serta tak perlu ajaranmu. Kami mempunyai Tuhan yang bernama Al-Latta, berbeda dengan berhala Hubal yang berada di Ka’bah. Tuhan kami lebih kuat dibandingkan berhala kalian. Sebagai buktinya, kami diberikan kesenangan dan kemewahan olehnya.” ujar salah satu dari mereka yang lain.

“Jauh berbeda dengan ajaran yang kalian tawarkan kepada kami. Ajaran yang penuh penderitaan dan siksaan. Jelas kami akan menolaknya. Jika tidak, ajaranmu akan menyebabkan banyak malapetaka bagi penduduk kami.” kata yang lainnya.

“Pergilah kalian dengan segera dari sini! Sebelum kalian menimbulkan bencana yang besar bagi para penduduk Tha’if. Kami pun harus melaporkan kalian kepada pimpinan Bani Quraisy di Mekkah sebagai mitra kami. Kami tak akan menghianati mereka.” mereka melanjutkan perkataannya.

“Apabila memang demikian, kami tidak akan memaksa. Maafkan kami jika sudah menganggu. Kami mohon diri.” sahut Nabi Muhammad SAW setelah mendengar jawaban dari mereka.

Maka ketika itu Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah keluar dari rumah mereka. Namun, mereka tidak membiarkan Nabi Muhammad SAW pergi begitu saja. Ada sekelompok penduduk kota Tha’if yang sudah siap menghadang Rasulullah SAW. Bahkan sebagian dari mereka ada yang masih anak-anak. Dengan satu aba-aba, mereka langsung melempari Nabi Muhammad SAW dan Zaid bin Haritsah dengan batu. Saat itu anak angkat Rasulullah SAW yaitu Zaid bin Haristah mencoba untuk melindungi Beliau sambil berjalan pergi dari kota tersebut. Rasulullah SAW dan Zaid bin Haristah pun mendapatkan luka akibat lemparan batu itu.

Setelah menjauh dari kota Tha’if, Rasulullah SAW beristirahat dan berteduh pada sebuah pohon sekaligus membersihkan luka-lukanya. Ketika sudah merasa tenang, Rasulullah mengangka kepala dan tangannnya seraya berdoa untuk mengadu dan meminta pertolongan kepada Allah SWT setelah apa yang terjadi.

Kemudian Allah SWT mengutus Malaikat Jibril untuk menghampiri Rasulullah. Jibril pun berkata, “Allah SWT telah mengetahui apa yang telah terjadi. Dia telah menugaskan malaikat di gunung-gunung yang berada di sekitar sini untuk siap menjalankan perintahmu. Apabila engkau berkehendak, maka para malaikat tersebut akan menabrakkan gunung-gunung yang ada sampai penduduk kota Tha’if semua binasa. Atau engkau ingin berkendak lain untuk menghukum penduduk kota tersebut.”

“Walaupun mereka tidak menerima ajakanku untuk memeluk agama islam. Tidak apa-apa. Karena diriku berharap dengan kehendak Allah, anak-anak mereka yang akan datang dapat menyembah dan berbakti kepada Allah SWT.” jawab Rasulullah.

Lihat, setelah mendapatkan lemparan batu dan hinaan dari penduduk Tha’if. Rasulullah SAW tidak membalas. Walaupun para malaikat sudah bersiap untuk memusnahkan para penduduk yang melakukan itu semua. Dengan kelembuatan hati Nabi Muhamamd SAW memilih untuk tidak berkehendak demikian. Namun memilih untuk memberikan kesempatan dan sekaligus mendoakan penduduk Tha’if agar bisa memeluk ajaran islam.

Kisah Teladan Nabi Muhammad dan Seorang Anak yang Malang

kisah Nabi Muhammad SAW dengan seorang anak kecil yang malang

tiaraqonitaahf.blogspot.com

Pada suatu saat di Hari raya Idul Fitri. Semua orang sibuk untuk mempersiapkan perayaan untuk menyambut hari raya tersebut. Saat itu Kota Madinah penuh dengan suasana gembira. Waktu untuk melaksanakan sholat id pun semakin dekat. Semua orang mengenakan pakaian terbaiknya untuk menuju sebuah lapangan.

Setelah usai shalat Id, dalam perjalanan pulang, Rasulullah melihat seorang anak dengan kondisi yang memprihatinkan, tubuhnya kurus dan ia memakai pakaian yang compang-camping. Ia duduk sendirian di salah satu pojok lapangan sambil menangis. Rasulullah SAW pun menghampirinya, dengan penuh kelembutan, ia mengusap pundak anak tersebut dan seraya bertanya, “Kenapa kamu menangis nak?”

“Tinggalkan aku sendirian! Aku sedang berdoa.” kata anak tersebut sambil marah dan menyingkirkan tangan Rasulullah SAW dari pundaknya.

“Katakan saja nak kepadaku! Apa yang telah terjadi?” sahut Rasulullah SAW sambil membelai rambut anak tersebut dengan suara yang penuh kelembutan.

“Ayahku terbunuh ketika berperang melawan Muhammad. Ibuku juga sudah menikah lagi dengan orang lain. Hartaku dijarah orang. Aku hidup bersama ibuku, namun suaminya barunya telah mengusirku pergi. Di hari ini semua anak-anak memakai pakaian baru dan bisa bercanda ria, sedangkan aku? Diriku tidak mempunyai tempat tinggal untuk melindungiku serta tidak punya makanan yang bisa kumakan.” ujar anak tersebut dengan sedih sambil menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut.

Ketika itu Rasulullah SAW pun meneteskan air mata. Namun Beliau berusaha untuk tersenyum dan bertanya, “Jangan bersedih nak, aku pun pernah kehilangan ayah dan ibuku ketika aku masih kecil.”

Dan anak itu pun memandang wajah Nabi Muhammad SAW, ia pun mengenali wajah yang berada dihadapannya itu dan anak itupun merasa sangat malu.

“Apabila aku menjadi ayahmu dan Aisyah menjadi ibumu serta Fatimah menjadi saudaramu, apa kamu akan merasa senang nak?”

“Tentu.” Si anak itu pun mengangguk memberikan isyarat.

Kemudian Rasulullah menggandeng tangan anak tersebut untuk membawanya pulang ke rumah. Beliau pun memanggil Aisyah, “Terimalah anak ini menjadi anakmu.”.

Aisyah pun menyambut anak tersebut dengan penuh kasih sayang. Anak itu pun segera dimandikan oleh Aisyah.  Selanjutnya diberikannya pakaian. Anak tersebut kembali ke lapangan sembari menari dengan rasa senang. Teman seusianya pun merasa heran kepada dirinya. Mereka mencoba menghampirinya dan bertanya kepadanya. Anak itu menceritakan semua yang telah dialaminya bersama Rasulullah SAW. Kemudian salah satu temannya itu berkata dengan nada yang iri, “Alangkah bahagianya hari ini jika ayah-ayah kita telah meninggal seperti ayahnya.”

Kisah Hidup Nabi Muhammad SAW dengan Penuh Kesederhanaan

kisah kesederhana Nabi Muhammad SAW

google.co.id

Suatu saat Umar bin Khattab RA menemui Nabi Muhammad SAW di kamar Beliau, lalu Umar bin Khattab melihat Rasulullah SAW sedang berbaring pada sebuah tikar yang sudah usang dengan pinggirannya sudah lapuk. Saat itu terlihat pada belikat Nabi jejak tikar tersebut membekas pada tubuhnya. Pada salah satu sudut kamar Rasululah SAW terdapat gandum sekitar satu gantang. Dan di bawah dindingnya terdapat Qarh atau seperti tumbuhan untuk menyamak kulit.

Saat itu air mata Umar bin Khattab RA tidak terbendung. Ia merasa kasihan dengan keadaan seorang pemimpin tertinggi umat islam. Nabi Muhammad SAW pun melihat air mata Umar bin Khattab yang berjatuhan.

“Apa yang terjadi? Apa yang membuatmu menangis Umar?” tanya Nabi SAW kepada Umar RA.

“Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak merasa sedih melihat tikar ini membekas pada tubuhmu, sedangkan diriku tidak mendapati apa-apa di lemarmu? Kaisar dan Kisra duduk di atas sebuah tilam dari emas dan kasurnya terbuat dari sutera dan beludru, ia pun dikelilingi sungai-sungai dan buah-buahan. Sementara dirimu Wahai Rasulullah, engkau adalah Nabi dan manusia pilihan Allah!” ujar Umar RA menjelaskan penyebab ia menangis dengan perasaan yang bercampur aduk.

“Wahai Umar, kebaikan mereka dipercepat kedatangannya dan semua kebaikan pasti akan terputus. Sementara kita merupakan kaum yang kebaikannya ditunda hingga hari akhir. Tidakah engkau rela jika akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?”

“Aku rela.” Jawab Umar RA.

( Diintisarikan dari sebuah Hadist Nabi )

Kisah Hidup Nabi Muhamma SAW Tentang Keteguhan Hatinya

kisah hidup nabi muhammad saw dengan keteguhan hatinya

pixabay.com

Ketika saat awal dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah. Kaum Quraisy saat itu merasa gelisah akibat syiar yang begitu gencar disampaikan oleh Rasulullah SAW. Paman Nabi yaitu Abu Thalib ditakdirkan oleh Allah SWT untuk melindungi Nabi Muhammad SAW. Sehingga kamu Quraisy tidak bisa melakukan apa-apa karena Abu Thalib merupakah salah satu tokoh yang disegani Quraisy.

Kamu Quraisy pun sepakat untuk membunuh Nabi Muhammad SAW  agar dapat melenyapkan cahaya islam. Tetapi sebelumnya mereka bertemu dengan Abu Thalib terlebih dahulu. “Keponakanm telah mencaci-maki agama dan sesembahan kami, dan menyebut kami sebagai orang-orang yang jahil (bodoh). Ia pun mengatakan bahwa nenek moyang kami merupakan orang-orang yang sesat. Hukum dia atau biar kami yang menghukumnya. Kami sudah tidak sabar lagi menghadapinya.” ujar salah satu pembesar Quraisy kepada Abu Thalib.

Abu Thalib pun sadar bahwa situasi saat itu telah gawat. Sehingga ia memanggil keponakannya itu dan menceritakan semua hal yang dikatakan oleh para pembesar Quraisy. “Jagalah dirimu dan diriku. Maka janganlah kamu membebaniku dengan sesuatu yang melebihi kemampuanku.” kata Abu Thalib kepada Nabi Muhammad yang bermaksud untuk tidak lagi berdakwah.

“Meskipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku supaya aku berhenti dari tugas suci ini, akut tidak akan berhenti hingga Allah SWT mengantarkanku kepada kejayaan Islam atau aku binasa karenannya.” jawab Rasulullah SAW dengan tena dan teguh hati.

Mendengar jawaban Nabi Muhammad SAW dengan tegas membuat Abu Thalib tersentuh. “Lakukanlah yang kamu ingin lakukan! Demi Tuhan Pemelihara Ka’bah, diriku tidak akan menyerahkanmu pada mereka.” ujar Abu Thalib kepada Rasulullah SAW.

Sungguh sebuah keteguhan hati yang luar biasa ditunjukan oleh Rasulullah SAW. Beliau tidak takut ancaman dari para pembesar Quraisy untuk meninggal dakwahnya. Namun Rasulullah SAW lebih takut kepada Allah SWT

Kisah Wafatnya Nabi Muhammad SAW

kisah wafatnya Nabi Muhammad SAW yang menyentuh hati

duniatimteng.com

Pada suatu pagi, Rasulullah SAW memberikan petuah atau nasihat pada suatu mimbar. “Wahai umatku, kita semua ada di dalam kekuasaan Allah dan cinta Kasih-Nya. Maka bertakwalah kepada-Nya. Aku telah mewariskan dua hal kepada kalian, Al-Qur’an dan As-Sunnah. Barang siapa yang mencintai sunnahku, berarti ia mencintaiku dan kelak setiap orang yang mencintau aku, akan bersama-sama masuk surga bersamaku.”

Nasihat atau khutbah yang singkat itu diakhiri oleh Rasulullah dengan memandang para sahabat satu persatu dengan tatapan yang teduh. Ali RA menundukkan kepalanya, Ustman RA mengambil napas panjang, Umar RA berusaha menahan tangisannya dan Abu Bakar RA menatap mata Rasulullah dengan berkaca-kaca.

“Rasulullah SAW akan meninggalkan kita semua,” itulah keresahan hati semua sahabat yang saat itu melihat Nabi SAW. Isyarat yang menandakan bahwa Nabi Muhammad SAW akan meninggalkan mereka semua sudah terlihat oleh para sahabat. Pertanda itu semakin kuat, ketika Fadhal dan Ali RA menangkap dengan sigap tubuh Rasulullah SAW yang saat itu terlihat sempoyongan ketika turun dari mimbar.

Keesokan paginya, Rasulullah SAW belum juga muncul untuk menjadi imam sholat subuh. Nabi Muhammad SAW selalu hadir di setiap waktu sholat, walaupun keadaan sakit. Tapi berbeda kali ini, Rasulullah SAW terbaring lemah dan keningnya bercucuran keringat sampai membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya Nabi.

Ketika terdengarlah seseorang yang mengucapkan salam secara tiba-tiba seraya berkata, “Apakah saya boleh masuk?” tanyanya kepada Fatimah. Namun Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maaf, ayahku sedang sakit,” ujar Fatimah sembari membalikan badannya dan menutup pintu. Setelah itu Fatimah menemui ayahnya yang saat itu sudah membuka matanya dan Rasulullah SAW pun bertanya, “Siapakah tadi yang mengucapkan salam, wahai anakku?”.”Aku pun tidak mengenalnya ayah, sepertinya aku baru melihatnya.” ujar Fatimah dengan lembut menjawab pertanyaan sang ayah.

Kemudian, Rasulullah SAW memandangi putrinya dengan tatapan yang menggetarkan. Nabi pandang wajahnya Fatimah dengan seksama seperti hendak mengenangnya. “Ketahuilah, ialah yang memisahkan pertemuan di dunia, ialah yang menghapus segala kenikmatan, Ialah malaikat mau,” kata Nabi Muhammad SAW.

Putri Rasulullah SAW itu pun tidak bisa menahan ledakan tangisannya. Kemudian malaikat maut pun datang menghampiri, Nabi pun bertanya kepadanya, kenapa Jibril tidak ikut denganmu. Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia untuk menyambut ruh Rasulullah SAW pun dipanggilnya.

“Jibril, jelaskanlah kepadaku, apa hakku nanti dihadapan Allah SWT?, tutur Nabi SAW kepada Jibril dengan suara yang lemah.

“Semua surga telah terbuka lebar untuk menanti kedatanganmu, para malaikat sudah menantikan ruhmu, pintu-pintu langit pun telah terbuka untukmu,” kata Jibril menjawab pertanyaan Rasulullah SAW. Namun perasaan cemas Nabi pun belum hilang.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini wahai kekasih Allah?” ujar Jibril bertaya kepada Nabi.

“Bagaimana dengan nasib umatku kelak, kabarkanlah kepadaku?”. Tanya Rasulullah SAW.

“Janganlah khawatir wahai kekasih Allah, aku pernah mendengar Allah SWT berfirman kepadaku: ‘Aku haramkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad yang telah berada di dalamnya,” kata Jibril untuk menghilangkan rasa cemas pada diri Rasulullah SAW.

Waktu malaikat maut melaksanakan tugas pun semakin dekat. Secara perlahan ruh Rasulullah SAW ditariknya. Tampak seluruh tubuh Rasulullah SAW bersimbah peluh dan urat-urat pada lehernya semakin menegang. “Jibril. berapa sakitnya proses sakaratul maut ini”, ujar Rasulullah SAW dengan lirih. Fatimah saat itu terpejam dan Ali RA yang berada disampingnya menundukan wajah karena tidak tega melihat Rasulullah SAW.

Saat malaikat Jibril memalingkan wajahnya, Nabi pun bertanya kepada jibril. “Jijikah kamu wahai Jibril, sehingga engkau palingkan wajahmu?” tanya Nabi Muhammad SAW kepada Jibril. “Siapakah yang tega, melihatmu wahai Rasul Allah yang sedang dicabut nyawanya,” sahut Jibril. Tak lama kemudian terdengar Rasulullah SAW memekik karena tidak tahan merasa sakit yang ia alami.

“Ya Allah, sungguh dahsyatnya maut ini, limpahkan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.” tutur Rasulullah SAW. Tubuh Nabi sudah mulai dingin, dada dan kakinya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seperti ingin membisikan sesuatu, Ali RA pun dengan sigap mendekatkan telinganya.”Peliharalah sholat dan santunilah orang-orang lemah diantaramu.” ucap Nabi.

Di luar rumah nabi sudah mulai terdengar tangisan saling bersahutan dan para sahabat yang saling berpelukan. Fatimah menutupi wajahnya dengan tangan, dan Ali pun kembali mendekatkan telinganya untuk mendengar pesan terakhir Rasulullah SAW yang bibirnya sudah mulai kebiruan. “Umatku, umatku, umatku.”Dan berakhirlah sudah kehidupan manusia yang paling mulia. Semoga kita dapat mencintai Nabi Muhammad SAW, sebagaimana Beliau mencintai kita selaku umatnya.

Semoga kita dapat meneladani Rasulullah SAW melalui kisah-kisah Nabi Muhammad SAW tersebut.Allahumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhamamd Wa Alihi Wa Shohbihi Wa Salim.

Leave a Reply