Keliru Memahami Nomor Satu

pixabay.com

Nomor satu dalam beberapa hal sering diartikan sebagai yang terbaik. Banyak orang pula yang mengincar posisi tertinggi untuk menjadi nomor satu.

Tapi untuk menjadi nomor satu sangatlah sulit. Perlu pengorbanan yang tidak sedikit untuk mendapatkan titel itu.

Jadi jangan berharap untuk mendapatkan titel nomor satu, jika dirimu kurang bekerja keras untuk mendapatkannya. Dan tanyakan pula pengorbanan apa saja yang kamu telah korbankan untuk menjadi nomor satu.

Hampir semua orang ingin menjadi nomor satu, tentunya dengan segala cara. Bahkan dengan cara yang halal, sampai cara yang ekstrim yaitu dengan cara yang haram di mata Allah.

Nah anehnya lagi, saya malah salah persepsi dalam memahami angka satu. hhe…

Bingung Menilai Angka Satu

pixabay.com

Yah, semua hal ini bermula sejak saya menginjak sekolah dasar, tepatnya kelas satu SD. Ketika itu saya termasuk murid teladan, Ge-er dikit gak apa-apa yah.

Coba bayangkan dari sekian banyak murid, cuman beberapa orang saja yang sering mendapatkan nilai yang hampir sempurna disetiap pelajaran. Dan saya adalah salah satunya, tentunya dengan trik khusus yang saya pakai waktu itu.

Penasaran dengan trik yang saya pakai saat itu? Caranya itu dengan memeriksakan hasil tugas saya kepada orang tua terlebih dahulu sebelum diberikan kepada guru. hhe…

Beneran, cara itu saya sering pakai saat itu. Ketika tugas sudah dikerjakan, saya langsung berlari keluar kelas, menuju orang tua yang ketika itu sedang menunggu kami para anaknya belajar di sebelah kelas. Jika jawaban sudah dikoreksi, langsung saya setor kepada ibu guru. Dan cara itu berhasil menjadikan saya sebagai murid yang berprestasi pada waktu itu.

pixabay.com

Kenapa saya bisa selow pakai cara itu? Memang saat itu saya tidak tahu cara seperti itu diperbolehkan atau tidak. Karena orang tua saya saat itu memberi intruksi seperti itu. Jadi saya lakukan saja. Namun cara itu saya lakukan hanya pada kelas satu saja yah, untuk selanjutnya saya pakai cara putih, tidak pakai cara abu-abu seperti itu lagi.

Dan ada satu hal lagi yang masih saya ingat sampai saat ini. Ketika pembagian rapot, Alhamdulillah saya mendapatkan peringkat satu.

Namun, bukannya senang, malah saya bersedih.

” Mah, kok dapet 1 sih? ” ujar saya kepada ibu saat itu.

” Lah, kan dapet rangking satu itu bagus loh, ” jawab ibu.

” Kan satu mah kecil mah, yang bagus itu sepuluh ” sahut saya ketika saat masih polos-polosnya. Sekarang juga masih polos kok. Hehe…

” Nggak, kalau di raport peringkat satu itu bagus. Tapi kalau kerjain tugas dari ibu guru dapet nilai 10 itu bagus, ” Jawab ibu untuk menegaskan saya.

“Oh gitu, ” sahut saya kembali. Walaupun saat itu saya masih bingung, kalau angka satu itu lebih tinggi daripada sepuluh. Yah sudahlah. Kita lanjut lagi.

Makan Apa Sih Kok Bisa Pinter?

pixabay.com

Satu lagi kata-kata yang masih saya ingat sampai sekarang. Kata-kata itu sering diucapkan oleh teman saya kepada saya. Bahkan sampai kepada orang tua saya.

Dan yang masih saya ingat itu, pertanyaan yang sama yang dilontarkan oleh salah satu teman perempuan saya. Eiits jangan pikir yang aneh-aneh, itu beneran teman perempuan saya bukan pacar. Pertanyaan itu pun langsung dilontarkan ke orang tua saya.

” Mamahnya otib, otib makan apa sih kok jadi pinter gini? ” pertanyaan itu yang sering ditanyakan teman-teman.

” Makan nasi lah, masa makan yang laen, ” jawaban langsung dari ibu saya.

Kan aneh, masa kepintaran seseorang itu dilihat dari makanannya. Entah apa yang dipikirkan teman saya pada waktu itu?

bintang.com

Saya pernah nonton film joshua yang judulnya saya lupa. hhe

Tapi saya ingat inti alur cerita dari film itu. Di dalam film itu menceritakan joshua itu anak yang pintar di kelasnya. Bahkan menjadi siswa terbaik di sekolahnya. Walaupun background lingkungannya itu di tempat yang kumuh, mungkin sama halnya dengan makanan yang dikonsumsinya yang tidak terlalu waw. Dilihat dari tempat tinggal dan pekerjaan kedua orang tuanya sebagai pemulung.

Dan apa yang terjadi ? Dengan kondisi seperti itu, dia masih bisa menjadi murid yang berprestasi. Terlepas dari benar atau tidaknya film tersebut. Kita bisa mengambil ibroh dari film itu.

Nah, masalah apakah makanan dapat mempengaruhi kepintaran seseorang? Makanan sebenarnya tidak terlalu mempengaruhi. Niat dan semangat belajarlah yang mengambil andil besar dalam kepintaran seseorang.

Rajin Dalam Urusan Dunia, Tapi Tidak dengan Urusan Akhirat

pixabay.com

Pada masa sekolah dasar merupakan masa-masa rajinnya saya dalam urusan belajar. Saya masih ingat, sampai-sampai buku PKN itu saya baca berulang kali. Saking rajinnya tuh.

Saya juga pernah pada saat istirahat mengerjakan tugas adik kelas yang soalnya masih tertulis di papan tulis. Rajin kan? Sebagian orang istirahat ke kantin, tapi saya masih ngutek-ngutek pulpen saja. Hmm yah gitu lah saya dahulu, benar-benar memprihatinkan. huft

Tapi rajinnya saya dalam urusan belajar tidak seiring dengan urusan akhirat. Sampai-sampai namanya sholat itu bisa dihitung pakai tangan.

pixabay.com

Pernah ketika hari jum’at, saya datang lebih awal sekitar jam 11.30┬ásiang hari. Pada saat itu memang saya mendapatkan sekolah yang belajar pada siang hari. Nah, saya bertemu dengan salah satu guru. Dan guru itu adalah guru agama.

” Kamu gak sholat jum’at yah? ” sapa ibu guru.

” Hmm, iya ibu, ” jawab saya sambil nyengir-nyengir.

Rasanya malu, saking malunya, ingatan itu masih saya ingat sampai sekarang. Sebenarnya hal ini tidak benar, karena sangatlah dianjurkan untuk menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Bahkan sebaiknya kita mendahulukan akhirat daripada dunia.

Saya ceritakan ini agar teman-teman bisa mengambil hikmah atas apa yang saya alami. Lanjut.

Di Atas Langit Masih Ada Langit

pixabay.com

Ketika saya menginjak kelas 6 SD. Saya diminta oleh wali kelas untuk mengikuti lomba matematika. Dan lomba ini merupakan lomba pertama saya. Satu sekolah diwakilkan oleh 4 orang. 2 orang dari 04 petang dan 2 orang lagi dari 02 petang.

Di sekolah SD saya saat itu terbagi menjadi 4 bagian dan 2 waktu pembelajaran. Siswa yang belajar pada pagi hari yaitu 01 dan 03. Dan untuk yang belajar di siang hari itu 02 dan 04.

Tapi saya tidak ingat bagian pagi itu apakah mengirimkan perwakilan juga? Maaf yah.

Hari perlombaan pun tiba. Kami berdua perwakilan 04 petang diantarkan oleh guru menggunakan motor.

Saya pun mencari ruangan untuk lomba matematika dilombakan. Karena saya ditugaskan mengikuti lomba matematika dan teman saya yang lain dilombakan untuk mata pelajaran IPA.

Waktu lomba pun sudah dimulai. Kertas soal pun sudah disebarkan oleh pengawas lomba kepada setiap peserta lomba. Keadaan saya saat itu sih biasa saja, tapi ada sedikit nerves sih. Mungkin karena pertama kali saya mengikuti lomba.

Ternyata soalnya luar biasa. Bayangkan mengerjakan matematika saja susah. Apalagi ditambah soalnya menggunakan bahasa inggris. Kan jadi double susah.

Saya pun mengerjakannya dengan susah payah. Dan setelah menerima hasilnya, rekan satu lomba kami yaitu 02 petang, peringkatnya lebih tinggi dari pada saya.

Padahal saat sebelum lomba, saya sudah optimis dapat mengerjakan soal dengan baik. Tapi kenyataannya mereka lebih unggul daripada kami.

Maka dari itu, kita jangan sombong atas apa-apa yang diberikan kepada Allah untuk kita semua. Bahkan sampai ilmu pun jangan membuat kita menjadi orang yang menganggap semua itu mudah dan menganggap kita itu lebih berprestasi daripada orang lain, karena di atas langit masih ada langit.

Indahnya Dunia hanya Sementara

pixabay.com

Masa-masa indahnya ketika sekolah dasar, tidak saya rasakan pada saat ini. Teman-teman yang pada saat itu mengatakan saya orang pintar, sebenarnya sudah tidak saya rasakan sekarang. Semakin tinggi saya menuntut ilmu, semakin tenggelam sebutan yang mereka nisbatkan kepada saya.

Karena masih banyak orang yang lebih pintar daripada saya. Mungkin juga, saya yang tidak serius dalam belajar lagi, tidak seperti masa sekolah dasar pada saat itu.

Semakin dewasa saya, semakin pemikiran itu menjadi matang. Yah, semua kenikmatan dunia itu hanya sementara.

Wajah yang tampan tidak akan bertahan lama, akan datang saatnya wajah yang kencang itu menjadi keriput dan terlihat lusuh.

Sama halnya jabatan yang tinggi. Kamu tidak akan selamanya bisa menikmati jabatan itu terus-menerus, karena akan datang masanya kamu akan jatuh dan merasakan kondisi bawahanmu yang ketika itu kamu pimpin.

Jadi janganlah salah mengartikan tujuan untuk menjadi nomor satu. Tanamkan dalam dirimu untuk menomor satukan Allah subhanahu wa ta’ala diatas tujuanmu untuk menakluk dunia ini yang hanya bersifat sementara.

Semoga dari kisah saya yang amburadul itu masih bisa diambil hikmahnya oleh teman-teman.

Leave a Reply