Kami Anak Rohis Selalu Optimis Bukannya Sok Narsis Kami Memang Manis

Pada umumnya setiap sekolah memiliki berbagai ekstrakulikuler. Kebijakan sekolah pun selalu mengharuskan semua siswanya untuk mengikuti ekstrakulikuler. Kenapa? Kebijakan itu diambil untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri siswa.

Saya pun sudah mengikuti beberapa ekskul. Salah satunya sudah saya ceritakan di artikel : Asam Manis Menjadi Anak Paskibra.  Kalau kamu penasaran ingin tahu pengalaman saya mengikuti ekskul paskibra, silahkan dibaca. Namun jika tidak berminat untuk membaca, silahkan juga. Toh, artikel yang itu gak bermutu. Saya membuat artikel tersebut hanya untuk menggugurkan tugas saja. Hehe…

COPY CODE SNIPPET

freedomworldhs.blogspot.co.id

Kembali ke topik pembicaraan. Setelah saya lulus dari SMP. Saya pun ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. SMKN 9 Jakarta menjadi pilihan saya saat itu. Kenapa saya memilih SMK atau Sekolah Menengah Kejuruan? Karena niat awal saya saat itu ingin langsung bekerja untuk membantu keluarga.

Saya sempat mendaftar di SMKN 56 Jakarta. Namun ketika penyeleksian, saya tidak lulus. Mungkin karena saat pendaftaran, saya terlambat. Sehingga ketika pendaftaran, saya mendaftar saat gelombang dua pendaftaran. Jadi ketika diseleksi, hanya 2 orang yang diterima dari 50 orang pendaftar. Otomatis persaingan tinggi. Dan saya salah satu yang gagal dalam persaingan itu.

Pada akhirnya saya diterima di SMKN 9 Jakarta. Mungkin itu takdir dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang mengharuskan saya menuntut ilmu disana. Berkat takdir itu, saya dapat menikmati kenangan indah bersama teman-teman Arabika, sebutan untuk sekolah saya saat itu. Kenangan ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengizinkan saya untuk mengikuti ekskul rohis. Kenangan indah yang sampai saat ini tidak pernah saya lupakan.

Sekilas Pandang Tentang Rohis

wahyualkautsar.blogspot.com

Ektrakulikuler Rohani Islam atau biasa disebut dengan Rohis itu merupakan ekskul yang saya ikuti ketika SMK. Sebelumnya saya pernah mengikuti beberapa ekskul seperti pencak silat dan komunitas bahasa inggris. Tapi dari beberapa ekskul yang saya ikuti. Saya menetapkan hati untuk fokus di ekskul rohis.

Rohis identik dengan urusan ngaji. Namun jika kamu telusuri lebih mendalam, rohis tidak hanya sekedar itu saja. Banyak yang saya dapatkan dari rohis. Contohnya, ilmu keorganisasian, publik speaking bahkan kepedulian antar sesama.

Yah, semua itu saya dapat dari ekstrakulikuler yang pernah saya remehkan.

Salah satu alasan saya saat itu ikut ekskul rohis adalah permintaan orang tua yaitu ibu.

” Udah ikut itu aja, nanti biar bisa ngajiin mamah, ” ucap ibu saya saat itu.

Alhamdulilillah otib udah bisa ngaji mah, InsyaAllah otib akan membahagiakan mamah disana. Maaf jadi baper. Memang kalau cerita masalah ibu, kadang hati ini gak kuat. Alaah lebay…

motifisika.blogspot.com

Selain diajarkan untuk mengaji. Saya mendapat ilmu berharga lainnya seperti ilmu keorganisasian.

Kejahatan yang terorganisir akan menang dibandingkan dengan kebaikan yang tidak terorganisir. Yah, kami ( anak rohis ) ditekankan untuk bisa berorganisasi. Apalagi kami dipercaya untuk menyelanggarakan Perayaan Hari Besar Islam atau yang biasa kami sebut PHBI. Kami ditunjuk sebagai penanggung jawabnya.

Saya pun pernah ditunjuk sebagai ketua pelaksana di acara pesantren kilat yang diadakan di sekolah. Ketuplak, itu candaan kami untuk memanggil ketua pelaksana suatu acara. Di rohis sendiri diharuskan setiap anggota merasakan jadinya ketua pelaksana. Dan saat itu, saya mendapatkan giliran untuk menduduki jabatan itu.

Tanpa daya dan upaya, saya harus menerima konsuekensi itu. Akhirnya saya jalankan amanah itu dengan kemampuan yang saya miliki. Ternyata tak semudah yang dibayangkan. Semua yang direncanakan tidak berjalan lancar sebagai mana mestinya. Mungkin saya kurang matang dalam menyiapkan acara tersebut dan kurangnya jam terbang dalam hal kepemimpinan.

Ada rasa kecewa pada saat itu. Kenapa? Kerja keras kami untuk bisa menyelanggarkan acara dengan baik, berakhir dengan buruk. Saya juga merasa bersalah, karena saya semua jadi berantakan. Karena baik dan buruknya acara itu tergantung dengan kepemimpinan seorang ketua. Dan saya termasuk ketua yang tidak bisa menjalankan amanah itu dengan baik. Huufft.

Berawal Marawis dan Berakhir Rohis

twitter.com

Salah satu alasan saya masuk rohis itu  karena ada teman yang mengajak. Awalnya kami tertarik dengan marawis saja. Tahu marawiskan? Kalau kami biasa sebut dengan band tabok. Karena marawis bagian dari rohis, jadi kami diharuskan ikut kegiatan rohis juga.

Saat Masa Orientasi Sekolah ata MOS, semua ekstrakulikuler menunjukkan penampilannya. Saat demo ekskul dimulai, ada beberapa ekskul yang saya berikan jempol, salah satunya yaitu marawis. Namun ada juga sih  ekskul yang menarik perhatian selain marawis yaitu ekskul capoeira, beladiri khas Negara Brazil.

Namun orang tua tidak mengizinkan karena pada saat itu untuk latihannya cukup jauh. Apalagi saya belum pernah pergi jauh. Yah, akhirnya saya memutuskan untuk mengurungkan niat saya itu.

lazada.co.id

Saya pun mencoba untuk menjadi salah satu anggota marawis. Kalau tidak salah, 2 orang teman saya pun ikut. Kami pun memberanikan untuk mendaftar.

Singkat cerita, saya dan teman-teman resmi menjadi anggota marawis. Karena tidak ada persyaratan khusus untuk masuk marawis.

Saya ditugaskan untuk memainkan alat musik marawis yang berukuran besar serupa dengan gendang yang bernama hajir. Walaupun badan saya kecil, alat itu bisa saya kuasai dengan mudah. Kecil-kecil cabe rawit. Hehe…

Kemenangan Pertama dan Terakhir

tokopedia.com

Setelah lama kami latihan. Kami pun mencoba peruntungan untuk mengikuti beberapa lomba. Namun selalu mendapatkan hasil yang sama yaitu kekalahan. Mungkin persiapan kami yang belum matang, dibandingkan tim-tim lawan yang mempunyai pelatih tetap, kami tidak punya. Kami hanya dilatih oleh senior yang sukarela melatih tanpa bayaran. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala membalasa semua kebaikannya.

Kemenangan yang ditunggu-tunggu pun datang. Kemenangan itu kami dapatkan saat perlombaan di salah satu sekolah. Saya lupa namanya.

Kerja keras kami pun saat latihan terbayar dengan kemenangan yang kami dapat. Walaupun hanya mendapat juara 3. Namun itu sudah membuat kami merasa puas. Alhamdulillah.

Setelah itu saya pun tidak mengikuti lomba-lomba lagi. Karena kami yang sudah kelas tiga, fokus untuk belajar agar Ujian Nasional bisa kami hadapi dengan mudah.

Kemenangan itu pun menjadi kemenangan pertama sekaligus kemenangan terakhir kami.

Ekskul Rasa Keluarga

kalteng.kemenag.go.id

Setelah 3 tahun saya menjadi anggota rohis. Banyak sekali kesan yang saya dapatkan setelah menjadi anak rohis. Makan bersama, dapat traktiran makanan dari kakak mentor, main futsal bareng sampai main ke guru pembimbing rohis.

Saya merasa aneh dengan ekskul ini. Ekskul yang beda daripada yang lain. Ekskul dengan rasa keluarga.

Yah, selama bertahun-tahun saya menjadi anggota rohis dengan berbagai problem yang kami hadapi. Kehangatan keluarga sangat terasa sekali. Kami sudah seperti saudara dan guru pembimbing rohis serta istrinya sudah seperti orang tua kami. MasyaAllah sungguh nikmat pada masa-masa itu.

Saya jadi ingat lagu rohis yang dipopulerkan oleh Asma Nadia dan Munsheed United.

Aku anak rohis.
Selalu optimis.
Bukannya sok narsis.
Kami memang manis.

Kubuka jendela pagi.
Rasakan hangat mentari.
Mulai kulangkahkan kaki.
Semangat tinggi di hati.

Di sekolah berprestasi.
Tak lupa aku tuk mengaji.
Sebagai bekal di dunia.
Dan akhirat nanti.

Kami aktivis.
Benci anarkis.
Walau kantongku tipis.
Bukan teroris.

Kepada.
Ayah dan bunda.
Baktiku selalu tercurah.
Agar berkah serta mudah.
Jalani semuanya Lillah.

Bersama kawan lewati hariku.
Dengan berbagi.
Syukuri dan tafakuri.
Kebesaran illahi.

Walau ku punya jenggot tipis.
Tapi ku bangga jadi aktifis.
Ku masih bisa berfikir logis.
Aku Anak Rohis Anti anarkis.

Leave a Reply