5+ Cerita Rakyat Nusantara Terbaik yang Sarat akan Pesan Moral

Cerita Rakyat Nusantara – cerita rakya merupakan sebuah kisah cerita yang terjadi di masa lalu yang menjadi ciri khas suatu bangsa yang mempunyai kultur budaya yang beragam yang meliputi sejarah dan kekayaan budaya yang dimiliki setiap bangsa.

Contoh cerita rakyat itu seperti cerita rakyat sangkuriang, cerita rakyat timun mas, legenda rakyat danau toba, dan masih banyak lagi. Setiap cerita rakyat biasanya memiliki pesan moral. Namun tidak semua cerita rakyat yang baik dari segi pesan moral untuk anak. Berikut beberapa cerita rakyat nusantara yang sarat akan pesan moral.

COPY CODE SNIPPET

Cerita Rakyat Jawa Tengah – Jaka Tarub

cerita rakyat nusantara jawa tengah yaitu ande ande lumut

asalusulnusantara.wordpress.com

Di zaman dahulu, ada seorang janda yang bernama Mbok Randa Tarub yang tinggal di sebuah desa yang bernama Desa Tarub. Ia mengadopsi seorang anak laki-laki untuk menjadi anaknya setelah suaminya meninggal dunia. Jaka Tarub merupakan panggilan anak itu setelah beranjak dewasa.

Jaka Tarub dikenal seorang anak yang baik dan cekatan dalam melakukan suatu pekerjaan. Dan pekerjaan sehari-hari yaitu membantu Mbok Randha menggarap sawah ladang. Jaka Tarub dan Mbo Randha bertahan hidup dari hasil sawah ladang tersebut. Mbok Randha sangat menyayangi Jaka Tarub yan telah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.

Hari demi hari telah berganti. Jaka Tarub pun semakin beranjak dewasa. Ia memiliki paras yang tampan dan memiliki perilakunya pun sopan. Sehingga banyak wanita yang menginginkannya untuk menjadi istrinya. Tetapi Jaka Tarub sampai saat itu belum memikirkan untuk mempunyai seorang istri. Ia masih ingin mengabdikan dirinya untuk Mbok Randha yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya.

Kerja keras yang telah ia lakukan menghasilkan sawah ladang yang melimpah untuk dirinya dan Mbok Randha. Sifat pemurah dan senang berbagi yang dimiliki Mbok Randha membuatnya selalu membagikan hasil ladang tersebut kepada tetangganya yang masik kekurangan.

” Jaka Tarub, Anakku, ” sahut Mbok Randha dengan penuh kasih sayang pada suatu hari.

” Mbok melihatmu telah tumbuh dewasa. Apa kamu tidak ingin segera menikah? Simbok sudah ingin menimang cucu nak, ” kata Mbok Randha melanjutkan percakapannya.

” Tarub masih belum ingin menikah, Mbok, ” jawab Jaka Tarub.

” Tapi, kalau simbok sudah meninggal, siapa yang akan mengurusimu? ” tanya Mbok Randha kembali.

” Sudahlah Mbok, jangan dibahas kembali. Tarub doakan simbo agar panjang umur, ” jawab Jaka Tarub dengan singkat.

” Hari sudah siang Mbok, tapi Mbok belum juga bangun? ,” gumam Jaka Tarub pada suatu pagi. ” Mbok lagi sakit ya?, ” tanya Tarub sambil memegang kening Mbok Randha.

” Iya, nak, ” jawab Mbo Randha yang terlihat lemah.

Kemudian Jaka Tarub segera mencari daun dhadhap serep guna untuk mengompres Mbok Randha yang saat dipegang keningnya terasa sangat panas. Tetapi umur Mbo Randha tidak lama. Menjelang siang hari, Mbo Randha pun meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.

Semenjak ditinggalkan Mbok Randha, Jaka Tarub selalu melamun. Ketika itu hasil sawah ladangnya melimpah ruah, sekarang sawah ladang tersebut terbengkalai. ” Untuk apa aku bekerja!. Hasilnya untuk siapa?” gumam Jaka Tarub saat itu.

Keesokan harinya Jaka Tarub sedang berselera untuk memakan daging rusa, dikarenakan pada malam harinya ia bermimpi makan daging rusa. Ia pun segera pergi ke hutan dan membawa sumpit untuk berburu rusa. Sampai siang hari tak kunjung ada rusa yang melintas. Bahkan sampai kancil pun tidak ada.

Padahal hutan yang didatangi Jaka Tarub merupakan hutan yang jarang dimasuki manusia. Hingga pada akhirnya ia memilih untuk duduk di bawah pohon yang berada di dekat telaga untuk melepas rasa lelah. Angin yang sejuk membuat Jaka Tarub tertidur.

Kemudia, terdengarlah suara tawa perempuan yang sedang bersuka ria. Jaka Tarub pun kaget mendengarnya.” Suara manusiakah itu? ” gumam Tarub. Selanjutnya ia mencari darimana asal suara tersebut. Betapa kagetnya Jaka Tarub melihat tujuah perempuan cantik yang sedang bermain air di sebuah telaga. Jaka Tarub pun terpesona akan kecantikan mereka. Tak diduga, ada sebuah selendang yang tak jauh dari telaga tersebut. Dengan cepat tanpa pikir panjang, ia mengambil sebuah selendang dan kemudian menyembunyikannya.

” Nimas, ayo segera kita naik ke darat. Hari sudah mulai sore. Kita harus cepat kembali ke kahsyangan, ” kata salah satu Bidadari yang telihat lebih tua. Akhirnya bidadari yang lain mengikutinya naik ke darat. Mereka pun segera memakai selendangnya masing-masing untuk bisa terbang ke kahyangan. Namun ada seorang salah satu bidadari yang terlihat kebingungan karena selendangnya tidak ada.

” Kakangmbok, selendangku kemana? kok tidak ada,” tanyanya.

Akhirnya keenam kakaknya membantu mencari selendang tersebut. Tetapi sampai senja, selendang tersebut tak kunjung ditemukan. ” Nimas Nawang Wulan, kami tidak bisa membantumu. Kami harus segera pergi ke kahyangan. Mungkin ini sudah nasibmu harus tinggal di mayapada, ” kata bidadari tertua.

Nawang Wulan pun menangis meratapi yang telah terjadi karena ia tidak bisa kembali ke kahyangan. Saat itu, datanglah Jaka Tarub untuk menolongnya. Ia pun mengajak Nawang Wulan pulang ke rumah.

Jaka Tarub pun hidupnya kembali berwarna karena adanya Nawang Wulan yang menemaninya. Pada Akhirnya Jaka Tarub dan Nawang Wulan menikah setelah beberapa bulan saling mengenal. Mereka pun hidup bahagia. Tidak lama setelah pernikahannya, Nawang Wulan dianugerahi seorang anak.

Pada suatu hari, Jaka Tarub mendapat pesan dari Nawang Wulan. ” Kakang, tolong jagakan api karena aku sedang memasak nasi, karena aku ingin pergi ke kali. Tapi jangan dibuka tutup kukusannya yah, ” kata Nawang Wulan. Setelah istrinya pergi, Jaka Tarub benar-benar penasaran yang berada di dalam panci kukusan tersebut.

Akhirnya Jaka Tarub pun memberanikan diri untuk membuka kukusan itu. Ternyata di dalamnya terdapat satu tangkai padi. ” Pantas, padi yang berada di lumbung tak pernah habis. Ternyata istriku Nawang Wulan bisa memasak satu tangkai padi ini menjadi nasi satu kukusan penuh,” gumam Jaka Tarub.

Ketika Nawang Wulan datang, ia melihat tutup kukusan itu telah terbuka. Ia sudah mengira suaminya pasti telah membuka kukusan tersebut. Akibatya kesaktiannya hilang. Sehingga mulai saat itu, Nawang Wulan menjadi wanita biasa yang harus menampi serta menumbuk beras untuk dimasak.

Hari demi hari, padi yang berada di lumbung pun semakin berkurang. Sampai suatu saat, Nawang Wulan melihat di antara tumpukan padi terdapat selendangnya yang lama telah hilang. Nawang Wulan pun langsung memakai selendang tersebut untuk menemui suaminya,

” Kakang Tarub, aku harus segera kembali pergi ke kahyangan. Tolong jagalah Nawangsih untuku. Dan buatlah dangau di sekitar rumah taruhlah Nawangsih di sana pada setiap malam. Aku akan menemuinya. Tetapi Kakang janglah mendekat,” kata Nawang Wulan. Dan ia pun terbang menjauh untuk menuju kahyangan.

Jaka Tarub pun membuat sebuah dangau di sekitar rumah. Dan setiap malam ia melihat anaknya bermain dengan ibunya. Nawang Wulan akan pergi kembali lagi ke kahyangan setelah anaknya yaitu Nawangsih tertidur. Demikian hal tersebut terjadi secara berulang-ulang sampai Nawangsih dewasa.

Meskipun Nawang Wulan telah pergi, Jaka Tarub selalu merasa ia selalu menjaga mereka. Ketika Nawangsih atau Jaka Tarub dalam kesulitan selalu ada bantuan yang datang secara tiba-tiba. Dan konon kabarnya, bantuan itu datang dari Nawang Wulan.

Cerita Rakyat Jawa Timur – Ande Ande Lumut

cerita rakyat ande ande lumut yang sarat akan banyak makna

devianart.com

Ada sebuah kisah tentang dua buah kerajaan kembar, yaitu Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Jayengrana dan Kerajaan yang dipimpin oleh Raja Jayenegara yang bernama Kerajaan Jenggala. Berdasarkan cerita yang ada, pada dahulu kala kedua kerajaan tersebut itu berada dalam satu wilayah yang bernama Kahuripan. Panji Asmarabangun yaitu seorang putra Jayengnegara dinikahkan dengan Sekartaji yang merupakan putri Jayengrana berdasarkan permintaan Airlangga sebelum meninggal untuk menyatukan kedua kerajaan tersebut dengan sebuah ikatan pernikahan agat tidak terjadinya peperangan antar mereka.

Suatu saat, Kerajaan Jenggala diserang dengan tiba-tiba oleh kerajaan musuh. Ketika pertempuran berlangsung dengan sengit, Putri Dewi Sekartaji melarikan diri serta bersembunyi di sebuah kampung atau desa yang tidak jauh dari Jenggala. Putri Dewi Sekartaji pun memilih untuk menyamar sebagai gadis kampung yang mengabdi pada seorang janda yang memiliki harta melimpah yang bernama Nyai Intan untuk menjaga keselamatan atas dirinya. Nyai Intan memiliki tiga anak perempuan yang mempunyai paras yang cantik dan tingkah yang genit. Mereka bernama Kleting Abang sebagai anak sulung, Kleting Ijo dan Kleting Biru sebagai anak bungsu. Ketika itu Nyai Intan memutukan untuk mengangkat Dewi Sekartaji sebagai anaknya dan diberi nama Kleting Kuning.

Kleting Kuning mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan yang lain. Ia selalu diperintahkan untuk mengerjakan segala pekerjaan rumah, seperti membersihkan rumah, mencuci dan memasak. Selain itu, ia sering mendapatkan omelan dari Nyai Intan dan ketiga kakak angkatnya. Bahkan, Kleting Kuning terkadang hanya diberi makan sehari satu kali oleh ibu tirinya.

Sementara itu, kondisi Kerajaan Jenggala sudah semakin membaik. Panji Asmarabangun dan para pasukannya berhasil memukul mundur pasukan yang berasal dari kerajaan musuh. Tetapi, ia merasa sangat sedih dikarenakan sang istri pergi meninggalkannya dan tidak tahu dimana keberadaannya.

Akhirnya Panji Asmarabangun pun memutuskan untuk mencari sang istri dengan mengerahkan beberapa pengawalnya untuk mencari jejak atau petunjuk keberadaan Dewi Sekartaji. Di suatu hari, tepatnya ketika sore hari, Panji Asmarabangun sedang duduk santai di pendopo istana, tidak lama kemudian datanglah pengawalnya menyampaikan kabar.

” Mohon ampun, Baginda! Hamba ingin memberikan kabar gembira kepada Baginda, ” ujar sang pengawal tersebut.

” Apakah kamu sudah menemukan keberadaan istriku?” tanya Panji Asmarabangun dengan perasaan yang tidak sabar.

” Mohon ampun, Baginda! Hambat melihat seorang gadis yang mirip dengan istri Baginda di sebuah dusun. Tetapi, hamba masih belum yakin bahwa gadis tersebut adalah istri Baginda. Karena ia seperti gadis kampung biasa yang bekerja pada seorang janda yang kaya sebagai pembantu,” jelas sang pengawal tersebut.

Setelah mendengar kabar itu, Panji Asmarabangun pun memilih untuk melakukan penyamaran sebagai seorang pangeran tampan yang sedang mencari calon istri atau jodoh. Di keesokan harinya, ia pun berangkat dengan beberapa pengawalnya ke sebuah desa yang bernama Dadapan yang berlokasi dekat sungai Bengawan Solo, Lamongan. Desa tersebut berseberangan dengan desa yang ditempati oleh Dewi Sekartaji.

Kabar tentang pangeran tampan yang sedang mencari jodoh yang sudah berada di desa sebelah membuat Kleting Biru, Ijo dan Abang merasa senang. Mereka pun pergi berdandan secantik mungkin agar sang pangera tersebut dapat ditaklukan meraka.

” Aasyyiik, Aasyyiik…!!! Kita akan berdandan secantik mungkin. Ibu pasti senang, jika salah satu dari kita menjadi putri raja,” ujar Kleting Abang.

Hari yang tunggu-tunggu pun tiba yaitu hari dimana sayembara itu dimulai, mereka pun dengan cepat berdandan. Mereka memakai perhiasan yang indah dan juga pakaian bagus yang mereka punya untuk menarik hati sang pengerang. Melihat hal tersebut, Klening Kuning pun mendekat ke tempat ketiga kaka angkatnya berdandan dengan asyiknya.

” Wahh, kalian sangat cantik sekali!” kata pujian Kleting Kuning kepada ketiga kakak angkatnya.

” Hei, Kleting Kuning! Apa kamu ingin mengikuti sayembara itu juga?” tanya Kleting Abang.

” Halah tidak mungkin! Baju pun kamu tidak punya. Apa kamu ingin mengikuti sayembara dengan pakaian seperti itu?” sahut Kleting Ijo untuk mencela Kleting Kuning.

” Iya benar, kamu tidak pantas untuk mengikuti sayembara tersebut! Lebih baik kamu diam saja di rumah, urus segala pekerjaanmu. Ayo pergi, semua pakaian kotor itu harus segera kamu cuci, pergilah ke sungai!” seru Kleting Biru sembari memberikan isyarat ke pakaian kotor mereka.

Kleting Kuning pun segera mengambil pakain kotor itu dan lansung pergi ke sungai untuk mencucinya. Sebenarnya, ia tertarik untuk ikut serta dalam sayembara tersebut, namun ia masih teringat suami tercinta, sehingga ia mengurungkan niatnya. Walaupun kabar tentang Panji Asmarabangun apakah sudah tewas atau hidup belum terdengar olehnya. Pada saat mencucui pakaian di sungai, datanglah seekor burung bangau menghampirinya. Anehnya, burung bangau tersebut bisa berbicara sepetri manusia pada umumnya dan kedua kakinya mencekram sebuah cambuk.

” Tuan Putri! Ikutilah sayembara tersebut! Karena di sana Tuan Putri bisa menemui Panji Asmarabangun. Dan bawalah cambuk ini! Jika suatu waktu Tuan Putri membutuhkan bantuan, Tuan Putri boleh memakainya,” Ujar burung bangau tersebut sambil menaruh cambutk itu di atas sebuah batu dekat Kleting Kuning.

Burung bangau pun langsung pergi meninggalkan tempat itu sebelum Kleting Kuning berkata sesuatu. Ia pun segera pergi kembali ke rumah dan bersiap untuk menuju Desa Dadapan dimana sayembara diselenggarakan.

Ketika itu ketiga saudara beserta ibu angkatnya sudah berangkat terlebih dahulu. Saat mereka sampai di tepi Sungai Bengawan Solo, mereka kebingungan untuk menyebrangi sungai yang dalam dan luas itu, sementara tidak ada satu pun perahu yang terlihat di tepi sungai.

“Bu, bagaimana kita bisa menyeberangi sungai ini sedangkan tidak ada perahu? tanya Kleting Ijo ketika kebingungan.

“Iya Bu! Apa yang bisa kita lakukan?” sambut Kleting Biru.

“Hei, itu makhluk apa? Coba lihat!” kata Kleting Abang sambil menunjuk sesuatu.

Nyai intan dan ketiga putrinya pun kaget melihat makhluk yang sedang mengapung di permukaan air itu merupakan seekor kepiting raksaa. Berdasarkan cerita, kepiting raksasa tersebut merupakan kiriman Ande-Ande Lumut untuk menguji para peserta sayembara yang menyebrangi sungai tersebut. Dan diketahu kepiting raksasa itu bernama Yuyu Kangkang.

” Hei, kamu kepiting raksasa! Apakah kamu ingin membantu kami untuk melewati sungai ini?” tanya Kleting Abang.

” Hahaha!!! Aku bisa saja membantu kalian, namun ada satu syarat yang harus kalian penuhi terlebih dahulu,” sahut Yuyu Kangkang sambil tertawa lebar.

” Apa syaratnya? Beritahu kami!” ujar Kleting Ijo. ” Apapun syaratnya, kami akan memenuhinya agar kami bisa melewati sungai ini.”

” Kalian harus mau menciumku dahulu, setelah itu aku akan mengantarkan kalian untuk menyebrangi sungai ini,” kata kepiting raksasa tersebut.

Akhirnya mereka menuruti kemauan Yuyu Kangkang. Satu persatu dari mereka mencium kepiting raksasa tersebut. Sesudah itu, Yuyu Kangkang pun membantu mereka melewati sungai. Dan beberapa saat kemudian datanglah Kleting Kuning di tepi sungai. Ia pun bertemu juga dengan Yuyu Kangkang. Kepiting raksasa itu pun mengajukan persyaratan yang sama untuk bisa membantu menyebrangi sungai.

Tetapi, Kleting Kuning menolaknya karena ia tidak ingin mengkhianati suaminya. Kleting Kuning pun berkali-kali memohon. Namun Yuyu Kangkang tidak mau membantunya. Akhirnya kesabaran Kleting Kuning pun habis. Ia mengambil cambuk dan memukulkannya ke sungai. Seketika air yang terdapat di sungai menjadi surut. Yuyu Kuning menjadi ketakutan dan dengan segera menyebrangkan Kleting Kuning. Bahkan memberikan tumpangan sampai ke Desa Dadapan, tempat sayembara tersebut diadakan.

Setibanya di sana, Kleting Kuning bertemu dengan ibu dan tiga kakak saudara tirinya. Tak lama waktu berselang, sayembara pun segera dimulai. Secara bergantian, Kleting Abang dan kedua saudaranya menunjukan keseksian tubuh dan kecantikannya di depan Ande Ande Lumut. Tetapi, tidak seorang pun yang terpilih. Melihat hal tersebut, Nyai Intan memohon kepada Ande Ande Lumut untuk mau memilih dari ketiga putrinya sebagai istrinya sambil berlutut.

” Mohon Ampun, Pangerang! Hamba memohon untuk menerima salah satu ketiga putriku! Mereka memiliki paras yang cantik, kurang apalagi?” kata Nyai Intan sambil memohon.

” Benar, mereka memang memiliki paras yang cantik. Namun, aku tetap tidak ingin memilih salahs atu dari mereka,” kata Ande Ande Lumut sambil tersenyum.

” Pengawal! Tolong panggilkan gadis yang berbaju kuning itu menghadapku!” ujar Ande Ande Lumut sembari menunjuknya.

Ternyata, gadis yang ditunjuknya adalah Kleting Kuning. Seketika Kleting Kuning pergi menghadap pangeran. Ande Ande Lumut pun berdiri dari singgasananya.

” Aku telah memilih gadis ini untuk menjadi permaisuriku,” ujar Ande Ande Lumut.

Orang yang hadir di tempat itu pun terkejut mendengarnya. Khususnya Nyai Intan dan ketiga anaknya.

” Mohon Ampun, Pangeran! Kenapa tuan memilih gadis tersebut yang terlihat kumuh dan tidak secantik anak-anaku?” tanya Nyain Intan penasaran.

” Wahai, Nyai Intan! Maka ketahuilah bahwa aku tidak akan memillih putri-putrimu dikarenakan mereka tidak lulus ujian karena telah mencium si Yuyu Kangjang. Sedangkan gadis ini menolak untuk menciumnya,” tegas Ande Ande Lumut.

Mendengar penjelasan itu, Nyai Intan dan ketiga anakanya menyadari bahwa mereka ditolak karena tidak lulus ujian. Dan sebalinya Kleting Kuning merasa bingung, karena ia tidak melihat suaminya. Tetapi Ande Ande Lumut pun membongkar penyamarannya bahwa sesungguhnya ia adalah Panji Asmarabangun. Seketika Kleting Kuning menyadarinya.

Dengan cambuk yang diberikan oleh burung bangau, ia menggunakannya untuk mengubah dirinya menjadi putri yang cantik jelita. Panji Asmarabangun pun sadar ternyata gadis tersebut merupakan istrinya, Dewi Sekartaji. Akhirnya kembali bertemu dan hidup bahagia. Dan sebagai ucapan terima kasihnya kepada Mbok Randa, Panji Asmarabangun mengajaknya untuk tinggal di Istana Jenggala. Sedangkan Nyai Intan dan ketiga anaknya kembali ke desanya dengan perasaan kecewa dan juga malu.

Pesan Moral dari Cerita Rakyat Jawa Timur – Ande Ande Lumut

Kita dapat melihat bahwa orang-orang terdahulu memiliki moral yang tinggi. Karena berdasarkan cerita di atas, Kleting Kuning menolak untuk mencium Yuyu Kangkang dikarenakan perasaan yang setia terhadap suaminya. Dan Ande Ande Lumut pun demikian, ia tidak ingin memilih perempuan yang “bekas” dari Yuyu Kangkang yaitu perempuan yang telah mencium Yuyu Kangkang.

Cerita Rakyat Malin Kundang – Legenda Rakyat dari Sumatera Utara

cerita rakyat malin kundang yang berasal dari sumatera barat

google.co.id

Pada Zaman Dahulu, hiduplah seorang ibu dan anak yang bernama Malin Kundang. Keluarga tersebut sangat miskin. Sang ibu lah yang bekerja keras untuk bisa bertahan hidup setelah sang ayah meninggalkannya.

Malin Kundang merupakan anak pintar namun sedikit nakal. Malin Kundang yang merasa kasihan terhadap ibunya yang telah banting tulang untuk menghidupi keluarga. Malin yang sudah beranjak dewasa memilih untuk meminta izin agar bisa merantau ke kota besar untuk mencari pekerjaan.

” Bu, Malin ingin pergi ke kota. Malin ingin bekerja untuk membantu ibu.” Kata Malin kepada ibunya untuk meminta izin.

” Kamu di sini saja, ibu hanya punya kamu, jangan tinggal ibu.” kata sang ibu berusaha menolak izin Malin untuk pergi.

” Malin kasihan melihat ibu harus bekerja terus menerus, biarkanlah Malin Pergi untuk bisa membantu ibu.” kata Malin untuk meyakinkan sang ibu.

” Baiklah nak, jika tekadmu sudah kuat. Tapi jangan lupakan ibu dan desa ini ketika kamu sudah sukses di perantauan.” kata sang ibu yang berusaha tegar mengizinkan anakanya sambil berlinang air mata.

Malin pun pergi pada keesokan harinya menuju kota besar dengan menggunakan kendaraan sebuah kapal. Singkat cerita ia bertemu dengan wanita yang kaya raya. Dan mereka pun saling jatuh cinta. Beberapa waktu kemudian mereka melaksanakan pernikahan. Akhirnya Malin Kundang pun menjadi suami dari istri yang memiliki harta yang melimpah.

Suatu saat Malin Kundang dan istri pergi melakukan pelayaran. Di tengah perjalanan kapal yang di tumpangi Malin Kundang terkena Badai yang besar. Hingga akhirnya mereka menepi di sebuah desa. Ternyata desa tersebut merupakan desa kelahiran Malin Kundang.

Ada beberapa warga yang melihat Malin. Mereka pun segera memberikan kabar bahwa Malin Kundang sudah datang kepada ibunya. Sang ibu pun merasa senang setelah hampir setiap hari ia menunggu di tepi pantai mengharapkan anak satu-satunya itu kembali.

Ibu Malin pun segera mendatangi kapal dengan berlari. Ia sudah tidak sabar ingin meluapkan kerinduannya kepada sang anak.

“Malin.. Malin.. Apa kamu Malin anakku? Aku ibumu nak, kamu masih ingatkan?” tanya sang ibu kepada Malind.

“Malin, anakku, kenapa kamu pergi begitu lama tanpa memberikan kabar?”sambungnya sambil memeluk Malin.

Istri Malin pun terkejut melihat bahwa ibu sang suami itu terlihat kumuh, bau, dekil dan tua. “Apa ini ibumu Malin? Wanita tua, dekil dan bau ini? tanya sang istri.

Malin Kundang pun merasa malu dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh sang istri. Sehingga ia berusaha segera melepaskan pelukan ibunya serta mendorongnya hingga jatuh.

“Aku tidak mengenalmu wanita tua miskin!!!” kata Malin kepada ibu kandungnya.

“Dasar kamu wanita tua yang tidak tahu diri. Seenaknya kamu mengaku sebagai ibuku.” sambung Malin Kundang dengan nada yang tinggi.

Perkataan yang tidak pantas dikeluarkan oleh seorang anak kepada ibunya yang telah dilakukan Malin Kundang membuat ibunya bersedih dan marah. Ia tidak menyangka, anak yang begitu disayangnya berubah menjadi anak yang durhaka.

“Oh Tuhan yang maha kuasa, jika ia memang benar anakku, aku memohon untuk memberikannya sebuah azab, rubahlah dia menjadi batu!” doa sang ibu dengan nada yang murka.

Selang beberapa waktu, angin dan petir bergemuruh menghancurkan kapal yang ditumpangi oleh Malin Kundang. Tubuh Malin Kundang menjadi kaku dan setelah itu menjadi batu yang menyatu dengan karang di lautan.

Pesan Moral dari Cerita Rakyat Malin Kundang – Legenda Rakyat dari Sumatera Barat

Sayangi dan hormatilah orang tuamu khusunya ibumu. Seburuk apapun keadaan mereka, kita saebagai anak harus mencintai dan menyayanginya. Selagi kita masih dapat menyentuh dan melihat tubuhnya, jangan sampai ada penyeselan kelak jika mereka sudah tiada. Khusunya ibu yang sangat berjasa besar untuk kita sebagai anak karena surga berada di telapak kaki ibu.

Cerita Rakyat Batu Menangis – Legenda Rakyat dari Kalimantan Barat

cerita rakyat kalimantan, legenda batu menangis

vidio.com

Pada zaman dahulu, ada seorang janda tua yang hidup dengan putrinya yang memiliki paras cantik yang berada di suatu desa terpencil di wilayah Kalimantan Barat, Indonesia. Mereka tinggal di sebuah rumah gubuk yang berlokasi di ujung desa. Kehidupan mereka berdua memprihatinkan setelah ayah Darmi meninggal dunia. Ibu Darmi bekerja sebagai burug upah di sebuah sawah atau ladang miliki orang lain untuk bisa bertahan hidup.

Sementara itu putrinya yaitu Darmi memiliki sifat manja. Jadi segala apapun yang diinginkannya harus segera diwujudkannya. Selain mempunyai sifat yang manja, ia pun seorang gadis yang malas. Kegiatannya hanya bersolek dan mengagumi kecantikannya di depan cermin. Setiap harinya ia selalu berkeliling kampung dengan tujuan untuk memperlihatkan parasnya yang cantik ke penduduk kampung. Ia tidak sama sekali berpikir untuk membantu ibunya mencari uang. Ia selalu menolak jika sang ibu mengajaknya pergi ke sawah.

“Nak, yuk bantu ibu di sawah,” ujar sang ibu untuk mengajaknya.

“Tidak ah bu! Aku tidak ingin mengotori kuku dan kulitku,” sahut Darmi menolak ajakan sang ibu.

“Apa kamu tidak kasihan ibu, nak?” tanya sang ibu sambil mengiba.

Tidak! Ibu saja yang bekerja, ibukan sudah tua dan keriput, mana mungkin ada laki-laki yang tertarik dengan ibu,” jawab Darmi dengan nada yang ketus.

Sang ibu pun tidak bisa menjawab lagi setelah mendengar jawaban anaknya. Ia pun tetap pergi ke sawah untuk bekerja dengan perasaan yang sedih. Namun si Darmi tetap berada di gubuk tersebut dan terus berdandan untuk mempercantik dirinya. Sesudah ibunya pulang dari bekerja, Darmi segera meminta uang untuk membeli alat kecantikan.

“Bu! Uang upahku mana?” tanya Darmi kepada ibunya yang sudah lelah bekerja seharian.

“Jangan, Nak! Bagaimana kita membeli kebutuhan hidup kita, jika uang ini kamu ambil?” ujar sang ibu.

“Tapi bedakku sudah habis. Aku ingin beli yang baru,” kata si Darmi.

“Sudah tidak mau bekerja, amu hanya menghabiskan uang saja. Kamu memang anak  yang tidak tahu diri!,” kata sang ibu yang sedang kesal.

Walaupun sang ibu marah, ia tetap memberikan uang tersebut kepada Darmi. Kejadian seperti hampir setiap hari terjadi. Di suatu hari, ketika sang ibu ingin pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga. Darmi meminta untuk membelikah sebuah alat kecantikan. Namun, sang ibu tidak mengetahui alat kecantikan yang maksud oleh Darmi. Selanjutnya, ibunya mengajak Darmi pergi ke pasar bersama.

“Ibu tidak tahu apa itu, lebih baik kamu temani ibu pergi ke pasar!” ujar ibunya untuk mengajak.

“Aku tidak ingin berangkat ke pasar bersama-sama dengan ibu!” sahut Darmi bermaksud untuk menolak ajakan sang ibu.

“Tapikan ibu tidak tahu alat kecantikan tersebut, nak!” kata ibunya kepada Darmi.

Setelah merasa terdesak, Darmi pun bersedia untuk menemani ibunya pergi ke pasar.Namun ia memberikan satu syarat yaitu ibunya tidak harus berjalan di belakangnya karena ia tidak mau terlihat warga kampung berdampingan dengan sang ibu.

Dengan perasaan yang sedih, ibunya menuruti kemauan Darmi. Mereka pun berangkat bersama, namun si Darmi berjalan di depan, sedangkan sang ibu berjalan dibelakangnya sambil membawa keranjang. Penampilan mereka tidaklah seperti ibu dan anak. Si Darmi yang memiliki paras cantik dan memakai pakaian bagus. Sedangkan ibunya berpakaian kotor dan penuh tambalan serta terlihat sangat tua.

Di tengah perjalanan, Darmi berpapasan dengan temannya yang tinggal di kampung yang lain.

“Hai, Darmi! Kamu mau kemana?” tanya temannya tersebut.

“Aku mau pergi ke pasar!”jawab Darmi dengan agak berbisik.

“Lalu, itu dibelakangmu siapa? Apa ia itu ibumu?” tanya kembali temannya kepada Darmi.

“Ia bukan ibuku! Ia adalah pembantuku,” sahut Darmi dengan nada yang sinis.

Sang ibu pun menahan rasa sedihnya mendengar hal tersebut. Mereka pun melanjutkan perjalanannya ke pasar. Tidak beberapa lama, mereka kembali bertemu dengan teman Darmi yang lain dan menanyakan hal yang sama. Jawaban yang sama pun dilontarkan Darmi yang menyatakan ibunya adalah pembantunya.

Ibunya pun tidak tahan dengan tingkah laku Darmi yang sudah keterlaluan. Ia pun berdoa kepada Tuhan untuk menghukum anaknya yang sudah durhaka.

“Ya Tuhanku! Mohon ampun atas keadaan hamba yang lemah ini. Hamba sudah tidak sanggup untuk menghadapi perilaku anak hamba yang sudah keterlaluan. Berikanlah hukuman yang setimpal untuknya!” doa ibunya untuk anaknya.

“Ibu! Aku kenapa? Kakiku bu?” tanya Darmi yang kakinya sudah mulai menjadi batu.

“Maafkan anakmu bu! Aku tidak akan mengulanginya lagi! Maafkan Darmi, bu!” kata Darmi yag semakin ketakutan.

Tetapi, apa yang bisa dilakukan. Hukuman dari Tuhan tidak dapat dihindari lagi. Seluruh tubuh Darmi mulai menjadi batu secara perlahan. Perubahan itu terjadi mulai dari kaki hingga kepala. Darmin menangis terus-menerus menyesali apa yang telah ia perbuat. Sang ibu pun masih melihat air mata yang menetes dari kedua matanya. Dan pada akhrnya seluruh tubuh Darmi berubah menjadi batu.

Pesan Moral dari Cerita Rakyat Batu Menangis – Legenda Rakyat dari Kalimantan

Janganlah menyakiti hari ibu, karena setiap doanya akan Tuhan kabulkan. Walaupun hidup dalam kesusahan, kita sebagai anak harus tetap menghargai dan menghormati ibu karena meraka sudah berusaha membesarkan kita dengan susah payah.

Cerita Rakyat Indonesia Bergambar – Anak Jujur dan Apel Merah

cerita rakyat indonesia

15min.lt

Pada suatu hari, sekitar bulan Maret, seorang anak perempuan yang bernama Kitty sedang berjalan menuju sekolahnya. Ketika itu ia melihat setumpuk apel segar berwarna merah di sebuah tokoh buah.

” Segarnya apel itu. Andai saja aku bisa membelikan satu buah untuk ibu,” gumam ia sambil tertunduk lesu. Kitty teringat ibunya yang sedang sakit di rumah. Keadaan keluarga yang miskin setelah ayahnya meninggal membuat ia tidak bisa membeli apel tersebut. Apalagi, sekarang ibunya sedang sakit dan tidak bisa bekerja.

Kitty merupakan anak yang aktif dan juga pintar. Namun pada hari itu, ia nampak tidak bersemangat dikarenakan pikirannya saat itu selalu tertuju pada apel yang dilihatnya serta ibunya.

Saat diperjalanan ia melihat dompet seorang bapak yang terjatuh dari sakunya. Setelah itu, Kitty mengambil dompet tersebut dan tidak sengaja ia melihat isi dompet yang berisi uang yang banyak.

“Uangnya banyak sekali. Andai saja aku bisa mengambilnya dan membelikan ibuku apel merah. Tapi, itu sama saja dengan mencuri. Aku tidak mau mengambilnya,” kata Kitty dengan tegas sambil menyusul bapak pemilik dompet tersebut.

“Pak, ini dompet anda, tadi terjatuh,” kata Kitty kepada pemilik dompet.

Bapak itu kemudian terkejut sekaligus senang melihat ada seorang anak yang jujur mengembalikan dompetnya yang terjatuh. Si bapak tersebut melihat kondisi Kitty yang lusuh, ia pun merasa iba kepadanya.

“Ini nak, sedikit hadiah dari bapak karena kamu telah mengembalikan dompet ini,” ujar bapak tersebut.

Kitty merasa senang karena mendapatkan uang dan bisa membelikan apel merah untuk ibunya. Ia berdiri dekat toko sambil melihat apel yang ingin dibeli. Namun penjaga toko yang melihat Kitty yang sudah lama berdiri merasa kasihan.

“Kamu ambil apel ini? Ini gratis untukmu tidak usah membayar.” kata penjaga toko yang baik hati itu.

Kitty kemudian mengucapkan terima kasih dan segera bergegas pulang. Di rumah, Kitty memberikan uang dan apel yang telah ia dapatkan kepada ibunya. Kitty pun menceritakan apa yang telah terjadi. Dan sang ibu memeluk anaknya seraya berkata “Lihatlah nak, kejujuran itu pasti akan membuahkan hasil yang manis seperti halnya apel merah ini,” kata sang ibu yang merasa senang mempunyai anak yang memiliki sifat jujur.

Pesan Moral dari Cerita Rakyar Indonesia Bergambar – Anak Jujur dan Apel Merah

Kita harus menanamkan kepada diri kita untuk selalu berperilaku jujur kepada diri sendiri maupun orang lain. Kita harus mengetahui bahwa kebohongan merupakan sifat yang buruk. Dan banyak akibat dari kebohongan jika kita melakukan sifat buruk tersebut, antara lain kesulitan mendapatkan pekerjaan karena tidak dapat kepercayaan, susah mendapatkan teman, dan kehilangan kepercayaan orang lain terhadap diri kita,

Perilaku jujur sering kali terasa sangat pahit pada awalnya. Namun percayalah, bahwa buah yang manis akan kita rasakan jika selalu menerapkan kejujuran dalam segala aspek kehidupan.

Sekian beberapa cerita rakyat nusantara yang sarat akan pesan moral. Semoga dapat bermanfaat. Terima kasih sudah membaca. 🙂

Leave a Reply