Kerajaan Kediri, Sejarah, Raja, Peninggalan, Kejayaan Hingga Runtuhnya

Nama Kerajaan Kediri tentu saja bukan hal yang asing di telinga masyarakat. Kerajaan ini memiliki sejarah yang cukup panjang dan menarik untuk dipelajari sebagai salah satu bukti kekayaan dan kejayaan nusantara di masa lampau. Bahkan, ada berbagai raja yang pernah memerintah di kerajaan ini dengan berbagai bentuk kepemimpinannya.

Anda tentu penasaran bukan dengan kerajaan ini? Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini akan di ulas mengenai Kerajaan Kediri mulai dari sejarahnya, raja-raja yang memerintah dan berbagai informasi yang berhubungan dengan kerajaan ini.

Rumusan Masalah

  • Dimana lokasi Kerajaan Kediri?
  • Siapa raja-raja yang pernah memimpin di kerajaan ini?
  • Apa saja yang menjadi sumber sejarah Kerajaan Kediri?
  • Siapa pendiri kerajaan Kediri sesungguhnya?
  • Siapa nama raja yang paling terkenal di Kerajaan Kediri?
  • Bagaimanakah aspek kehidupan yang ada di kerajaan Kediri?
  • Bagaimanakah kehidupan kerajaan Kediri dari sektor politik?
  • Bagaimanakah kehidupan di kerajaan Kediri dari sektor ekonomi?
  • Bagaimanakah kehidupan dari kerajaan Kediri dari sektor sosial budaya?
  • Apa saja hasil budaya yang ada di kerajaan Kediri?
  • Apa yang menyebabkan keruntuhan kerajaan Kediri?

Sejarah Kerajaan Kediri

sejarah kerajaan kediri
www.gurupendidikan.co.id

Kerajaan Kediri sesungguhnya merupakan kelanjutan dari sebuah kerajaan bernama Kerajaan Wangsa Isyana atau yang bisa dikenal dengan nama Kerajaan Medang Kamulan. Kerajaan Kediri atau Kerajaan Panjalu merupakan sebuah kerajaan yang di dalamnya menggunakan corak Hindu di kawasan Jawa Timur yang berdiri sejak tahun 1042 sampai dengan 1222.

Adapun pusat dari Kerajaan ini adalah kota Daha yang saat ini terletak di Kota Kediri. Kota Daha ini sebenarnya sudah ada sebelum kerajaan Kediri berdiri. Adapun Daha sendiri menjadi singkatan ari Dahanapura yang memiliki makna kota api. Dan nama ini kebetulan tertulis pada prasasti Pamawatan yang dibuat oleh Airlangga di tahun 1042.

Hal tersebut sejalan dengan berita yang terdapat pada sebuah dokumen bernama Serat Calon Arang bahwa ketika pemerintahan Airlangga berakhir, pusat kerajaan tersebut memang tidak lagi terletak di kawasan Kahuripan, namun sudah berpindah ke kawasan Daha.

Kerajaan ini juga menjadi satu di antara dua pecahan dari kerajaan Kahuripan tahun 1945. Dan wilayah dari kerajaan Kediri sendiri merupakan bagian selatan dari lokasi kerajaan Kahuripan. Di akhir bulan November 1042, Airlangga kemudian membelah wilayah kekuasaan kerajannya dikarenakan adanya perebutan tahta dari kedua putranya.

Adapun wilayah kerajaan bagian Barat diberikan kepada putranya yang bernama Sri Samarawijaya bernama Panjalu yang pusatnya ada di kota baru bernama Daha. Sedangkan untuk wilayah kerajaan yang ada di bagian Timur diberikan kepada putra lainnya yang bernama Mapanji Garasakan dengan kerajaan yang bernama Jenggala yang pusatnya ada di Kahuripan yang menjadi kota lama.

Memang hingga saat ini masih belum terdapat bukti yang jelas bagaimana kedua kerajaan yang ada tersebut dipecah menjadi beberapa bagian kerajaan sekitar empat atau lima bagian. Akan tetapi, seiring perkembangan waktu ke waktu, hanya dua kerajaan bernama Jenggala dan juga Kediri atau Panjalu yang kerap disebut-sebut.

Samarawijaya yang merupakan seorang pewaris sah dari Dahanaputra atau kota lama mengubah nama kerajaannya menjadi Panjalu atau yang hingga hari ini banyak dikenal dengan nama kerajaan Kediri. Dan dalam sejarahnya, kerajaan Kediri ini pada akhirnya pernah menjadi kerajaan yang besar. Sementara untuk kerajaan Jenggala milik saudaranya justru mengalami keterpurukan dan tenggelam.

Dan diduga bahwa kerajaan Jenggala ini mengalami keruntuhan lantaran di taklukkan oleh kerajaan Kediri itu sendiri. Berdasarkan data yang ditulis Negarakretagama, sebelum kerajaan tersebut dibagi atau dipecah menjadi dua, nama kerajaan yang kebetulan dipimpin oleh Airlangga sudah diberi nama Panjalu dan memiliki pusat di kota Daha.

Sehingga, dapat diambil pemahaman bahwa lahirnya kerajaan Jenggala sendiri adalah sebagai pecahan dari kerajaan Panjalu. Dan untuk Kahuripan sendiri adalah sebuah nama kota lama kerajaan tersebut yang telah ditinggalkan oleh Airlangga sehingga akhirnya menjadi ibu kota Jenggala.

Awalnya, untuk nama Panjalu sendiri sebenarnya adalah Pangjalu dan nama ini dulu lebih kerap digunakan dari pada nama kerajaan Kediri. Hal ini bisa dibuktikan dari berbagai prasasti yang dibuat oleh para raja-raja Kediri saat itu. Bahkan, nama Panjalu sendiri dikenal sebagai Pu-Chia-Lung di dalam sebuah kronik China yang memiliki judul Ling Wai Tai Ta tahun 1178.

Adapun untuk wilayah kerajaan Kediri atau Panjalu adalah kawasan selatan dari kerajaan Kahuripan. Namun, berbagai peristiwa yang terjadi di masa awal kerajaan Kediri ini tidak banyak yang diketahui. Seorang raja bernama Kameswara yang memerintah sejak tahun 1116-1136 menikah dengan seorang putri kerajaan Jenggala yang bernama Dewi Kirana.

Dengan begitu, Kerajaan Jenggala akhirnya dipersatukan kembali dengan kerajaan Kediri. Dan di Jawa sendiri, kerajaan Kediri merupakan sebuah kerajaan yang amat kuat. Pada masa tersebut, sebagaimana ditulis di dalam kitab Kakawin Smaradahana yang sangat dikenal dalam Kesusastraan Jawa dengan cerita Panji.

Ada sebuah pendapat yang menyatakan bahwa nama Kediri sendiri berasal dari kata Kedi yang maknanya adalah wanita yang tidak datang bulan atau mandul. Berdasarkan kamus Jawa Kuno yang bernama Wojo Wasito, makna dari kedi adalah orang kebiri bidan atau biasa dikenal dengan dukun.

Di dalam sebuah lakon wayang, Sang Arjuno pernah menyamar sebagai guru tari di Negara Wirata yang bernama kedi Wrakantolo. Sehingga apabila dihubungkan dengan nama tokoh bernama Dewi Kili suci yang pernah bertapa di gua bernama Selomangkleng, Kedi maknanya adalah Suci atay Wadad.

Selain itu, Kediri juga memiliki asal kata Diri yang maknanya adalah adeg, Angdhiri atau menjadi raja, menghadiri (bahasa Jawanya adalah Jumenengan). Hal itu dapat dibaca dari sebuah prasasti bernama WANUA tahun 230 Saka. Di antara bunyi dari prasasti tersebut adalah:

“Ing Saka 706, cetra nasa danami sakla pakasawara, angdhiri rake panaraban”. Adapun arti dari penggalan tulisan tersebut adalah Pada tahun Saka 706 atau 734 Masehi, telah bertahta seorang Raja Pake Panaraban.

Tidak hanya itu, nama Kediri sendiri juga cukup banyak ditemukan pada kesusastraan kuno yang menggunakan bahasa Jawa Kuno. Misalnya pada kitab Pararaton, Samaradana, Negara Kertagama dan juga Kitab Calon Arang. Selain dari berbagai kitab, nama Kediri juga disebutkan dalam beberapa prasasti, misalnya saja Prasasti Ceber yang menggunakan angka tahun 1109 Saka.

Prasasti ini letaknya ada di Desa Ceker atau yang saat ini bernama desa Sukoanyar Kecamatan Mojo. Di dalam prasasti tersebut disebutkan bahwa karena penduduk Ceker memiliki jasa tersendiri kepada Raja, maka mereka pun mendapatkan hadiah berupa tanah Perdikan.

Di dalam prasasti tersebut juga dituliskan “Sri Maharaja Masuk RI Siminaninaring Bhuwi Kadiri” yang maknanya adalah raja sudah kembali kesingasannya atau harapannya di bumi Kediri. Tidak hanya itu, prasasti Kamulan yang terdapat di desa Kamulan Trenggalek yang bertuliskan tahun 1116 Saka atau bertepatan pada tanggal 31 Agustus 1194 menurut Damais. Di dalam prasasti tersebut juga disebutkan adanya nama Kediri yang diserang oleh seorang raja dari kerajaan Timur.

“Aka ni satru wadwa kala sangke purnomo”. Kemudian raja meninggalkan istana yang berada di Katangkatang (tatkala nin kentar sangke kadetwan ring katang-katang deni nkir mair yatik kaprabon sri maharaja siniwi ring bumi kadiri).

Ketika Bagawantabhari mendapatkan anugerah berupa tanah perdikan dari seorang saja Rake Layang Syang Tulodong yang ditulis pada ketiga prasasti Harinjing. Nama Kediri, awal mulanya memang kecil namun menjadi besar dan berkembang menjadi nama Kerajaan Panjalu yang terkenal besar dan juga memiliki sejarah yang amat terkenal hingga hari ini.

Raja-Raja Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri yang paling terkenal memang diperintah oleh raja yang berjumlah delapan dimulai dari awal mula berdirinya hingga masa keruntuhan dari kerajaan ini. Dari beberapa raja yang pernah memerintah kerajaan Kediri, raja yang mampu membawa kerajaan ini kepada masa keemasan adalah Prabu Jayabaya. Bahkan, nama raja ini masih sangat terkenal hingga hari ini.

Sri Jayawarsa

Di antara raja yang memerintah kerajaan Kediri adalah Sri Jayawarsa yang sejarahnya dapat ditemukan dari prasasti bernama Sirah Keting tahun 1104 Masehi. Di era pemerintahan raja ini, Jayawarsa memberikan hadiah kepada sebuah rakyat desa sebagai suatu bentuk penghargaan.

Hal itu disebabkan karena rakyat yang bersangkutan memiliki jasa tersendiri kepada saja. Dari prasasti yang ada tersebut, maka bisa diketahui bahwa perhatian raja Jasawarsa amatlah besar kepada masyarakat dan senantiasa berusaha untuk membuat rakyatnya sejahtera.

Sri Bameswara

Raja Bameswara ini merupakan seorang raja yang cukup banyak meninggalkan prasasti seperti jenis prasasti yang ada di kawasan Tulungagung dan Kertosono. Adapun jenis prasasti yang banyak ditemukan adalah jenis prasasti yang berisikan permasalahan keagamaan sehingga dapat diketahui bahwa kondisi pemerintahan dari raja ini sangatlah baik.

Prabu Jayabaya

Prabu Jayabaya merupakan raja di kerajaan Kediri yang mampu membawa kerajaan ini kepada masa keemasan dan kejayaan. Ia memiliki strategi yang sangat mengagumkan di dalam memerintah dan memakmurkan rakyatnya. Adapun ibu kota dari kerajaan ini adalah Dahono Puro yang terletak di kaki Gunung Kelud. Tentu saja kawasan ini memiliki tanah yang subur sehingga banyak tanaman hijau yang ditanam di sana.

Pada masa kepemimpinan Prabu Jayabaya, hasil pertanian dan juga perkebunan sangatlah berlimpah. Di tengah kotanya mengalir sungai Brantas yang memiliki air sangat bening dengan banyak ikan yang hidup di dalamnya. Hal ini menjadikan kebutuhan makanan dengan protein tinggi dan juga gizi senantiasa tercukupi.

Hasil bumi yang diperoleh dari pertanian subur tersebut kemudian diangkut ke kawasan Jenggala yang ada di sekitar Surabaya dengan menaiki perahu menelusuri sungai. Pada masa tersebut roda ekonomi berjalan dengan sangat lancar sehingga kerajaan Kediri ini benar-benar disebut dengan kerajaan yang Gemah Ripah Loh Jinaei Tata Tentrem Karta Raharja.

Pemerintahan dari Prabu Jayabaya sendiri adalah antara tahun 1130 sampai dengan tahun 1157 Masehi. Ia bahkan tidak tanggung tanggung di dalam memberikan bentuk dukungan spiritual dan juga material di bidang hukum dan juga pemerintahan. Ia juga memiliki sikap yang merakyat dan memiliki visi yang jauh ke depan. Karena itu, tidak heran jika raja ini banyak dikenang sepanjang masa.

Apabila sampai hari ini banyak rakyat kecil yang ingat raja Kediri satu ini, maka hal tersebut menunjukkan bahwa pada masanya, Prabu Jayabaya sangat adil dan juga bijaksana kepada rakyatnya.

Sri Sarwaswera

Sejarah dari raja satu ini ada pada prasasti bernama Padegelan II tahun 1159 dan juga prasasti Kahyunan tahun 1161. Ia merupakan seorang raja taat beragama dan juga berbudaya. Bahkan ia sangat memegang teguh prinsip “tat wamasi” yang artinya adalah di kaulah itu, semua makhluk adalah engkau.

Menurut raja satu ini, tujuan hidup manusia untuk terakhir kalinya adalah masa yang merupakan pemanunggalan jiwatma dengan paramatma. Dan jalan yang benar merupakan sesuatu yang mengarah kepada bentuk kesatuan, sehingga semua sesuatu yang menghalangi upaya kesatuan adalah hal yang tidak benar.

Sri Aryeswara

Sri Aryeswara merupakan raja Kediri yang lain yang memerintah pada tahun 1171. Hal ini didasarkan pada prasasti Angin tahun 1171. Ia memiliki nama gelar Abhiseka Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatara Arijamuka.

Memang tidak diketahui secara pasti mengenai kapan raja ini kemudian naik tahta. Ia hanya meninggalkan sebuah prasasti Angin tanggal 23 Maret 1171. Adapun lambang dari kerajaan Kediri pada masa ini adalah Ganesha. Dan untuk berakhirnya pemerintahan raja satu ini juga tidak diketahui secara pasti.

Sri Gandra

Adapun raja Kediri yang selanjutnya adalah Sri Ganda yang memerintah pada tahun 1181 M. Hal ini dapat diketahui dari prasasti Jaring, yakni tentang adanya penggunaan nama hewan di dalam kepangkatan misalnya nama gajah, kebo dan juga tikus. Nama nama itu menunjukkan tinggi atau rendahnya pangkat dari seseorang di sebuah istana.

Sri Kameswara

Adapun untuk masa pemerintahan dari Sri Kameswara sendiri bisa diketahui dari sebuah prasasti bernama Ceker tahun 1182 dan juga pada Kakawin Smaradhana. Di era pemerintahannya yang dimulai sejak 1182 dan berakhir pada 1185, kerajaan ini memiliki perkembangan seni sastra yang amat pesat.

Misalnya saja Empu Dharmaja yang mampu mengarang kitab Smaradhana. Bahkan, di masa pemerintahan ini ada juga beragam cerita panji misalnya cerita panji Semirang.

Sri Kertajaya

Pemerintahan raja Sri Kertajaya yang merupakan raja terakhir di kerajaan Kediri dimulai sejak tahun 1190 sampai dengan tahun 1222 Masehi. Hal ini didasarkan pada bukti sejarah berupa Prasasti Galunggung tahun 1194, kemudian Prasasti Kamulan tahun 1197, kemudian Prasasti Wates tahun 1205, Negarakertagama dan juga Pararaton.

Raja ini juga dikenal dengan nama Dandang Gendis. Di era pemerintahannya, kestabilan di tingkat kerajaan mengalami kemerosotan. Hal tersebut disebabkan karena raja Kertajaya mengurangi hak-hak yang dimiliki oleh kaum Brahmana.

Kebijakan tersebut kemudian ditentang oleh kaum Brahmana karena kedudukan mereka yang semakin tidak aman di kerajaan Kediri. Kaum Brahmana pun banyak yang melarikan diri dan meminta bantuan kepada Tumapel yang ketika itu diperintah oleh Ken Arok.

Melihat hal itu, Raja Kertajaya kemudian menyiapkan pasukan untuk melakukan penyerangan kepada Tumapel. Sedangkan Ken Arok sendiri memperoleh dukungan dari kaum Brahmana dan kemudian melakukan penyerangan kepada kerajaan Kediri. Sehingga pada tahun 1222 M, kedua pasukan tersebut bertemu di dekat kawasan Ganter.

Kitab Perundang Undangan

Sistem perundang-undangan yang terdapat di kerajaan Kediri dirancang oleh para ahli hukum yang menjadi bagian dari Dewan Kepujanggaan Istana. Para pakar tersebut selalu melakukan upaya studi banding sebelum menjalankan tugasnya dalam menyusun hukum dan juga konstitusi kepada Negara yang lain.

Adapun produk hukum yang dihasilkan oleh dewan di kerajaan Kediri ini disebut dengan kitab Darmapraja. Kitab satu ini adalah karya pustaka yang isinya adalah Tata Tertib Penyelenggaraan Pemerintahan dan juga Kenegaraan. Dan di dalam bidang pengadilan, Raja senantiasa mengikuti undang-undang yang dibuat oleh dewan tersebut.

Sehingga semua keputusan yang diambil tergolong afdol dan memuaskan semua pihak. Di dalam pasal-pasal kitab tersebut, agama ditafsirkan sebagai sebuah undang-undang atau kitab perundang undangan. Terkadang yang membedakan hanyalah perumusannya saja.

Misalnya yang satunya lebih panjang dari yang lain dan menjadi penjelasan atau perlengkapan dari pasal serupa yang lebih pendek. Pada masa tersebut, kitab perundang undangan agama adalah undang undang hukum pidana. Akan tetapi, selain kitab undang undang hukum pidana ada juga undang undang hukum perdata pada masa tersebut.

Adapun untuk tata cara jual belum pernikahan dan juga perceraian, pembagian warisan termasuk ke dalam jenis undang undang hukum perdata. Di era kerajaan Kediri memang belum ada rincian yang tegas mengenai undang-undang pidana dan juga hukum perdata.

Berdasarkan sejarah yang ada undang-undang hukum perdata tumbuhnya adalah dari hukum pidana. Sehingga pencampuran di antara keduanya di dalam perundang undangan agama bukanlah sebuah keganjilan jika dilihat dari sisi sejarah hukum.

Sistem Peradilan Kerajaan

Adapun untuk sistem peradilan kerajaan Kediri tujuannya adalah untuk bisa mendapatkan kepastian hukum di dalam pelaksanaan pemerintahan dan juga kerajaan. Dengan adanya suatu kepastian hukum yang jelas, maka hak dan juga kewajiban dari semua warga kerajaan bisa dijamin.

Dan terbukti, adanya keseimbangan di antara hak dan juga kewajiban tersebut bisa menimbulkan ketentraman lahir dan juga batin. Aparat beserta rakyat sangat hormat terhadap hukum atau dharma untuk bisa menjaga kepentingan bersama.

Seluruh keputusan yang terdapat di dalam pengadilan diambil atas nama dari raja yang dikenal dengan Sang Amawabhumi yang maknanya adalah seseorang yang memiliki dan menguasai Negara. Bahkan, di dalam Mukadimah Darmapraja disebutkan bahwa:

“Semoga Sang Amawabhumi teguh hatinya di dalam menerapkan besar dan juga kecilnya denda, jangan sampai ada kesalahan trap. Jangan sampai orang yang berbuat salah, luput dari tindakan. Itu merupakan kewajiban bagi Sang Amawabhuni, apabila beliau mengharap adanya kerahayuan Negara.

Di dalam hal pengadilan, Raja kemudian dibantu oleh dua orang yang disebut dengan Adidarma Dyaksa. Satunya dikenal dengan Adidarma Dyaksa Kasiwan dan satunya dikenal dengan Adidarma Dyaksa Kabudan. Ini adalah kepala agama Siwa dan kepala agama Buda yang dikenal dengan sebutan Sang Maharsi.

Hal itu lantaran kedua agama tersebut merupakan agama yang utama di dalam kerajaan Kediri dan juga semua perundang undangan yang didasarkan kepada agama. Kedudukan dari Adidarma Dyaksa tersebut bisa disamakan dengan kedudukan Hakim Tinggi.

Mereka kemudian dibantu oleh lima orang Upapati yang artinya adalah pembantu di dalam pengadilan yang tugasnya membantu Adidarma Dyaksa. Mereka biasa dikenal dengan Sang Pamegat yang maknanya adalah Sang Pemutus atau Hakim. Baik Adidarma Dyaksa ataupun Upapati tersebut diberi gelar Maharsi.

Awalnya jumlah mereka hanya lima orang yang terdiri dari Sang Pamegat Tirwan, Sang Pamegat Kandamuhi, Sang Pamegat Manghuri, Sang Pamegat Jambi, dan juga Sang Pamegat Pamotan. Mereka masuk ke dalam golongan Kasiwan lantaran Siwa merupakan agama resmi dari kerajaan Kediri dengan jumlah pengikut yang terbanyak.

Di era pemerintahan Prabu Jayabaya, ia menambah jumlah Upapati menjadi tujuh sehingga ada lima Upapati Kasiwan dan dua Upapati Kabudan. Perbandingan yang ada ini tentu saja terbilang layak mengingat jumlah warga yang memeluk agama Buda di bawah jumlah warga yang memeluk agama Siwa.

Adapun dua nama Upapati Kabudan tersebut adalah Sang Pamegat Kandangan Tuha dan Sang Pamegat Kandangan Rare. Saat Prabu Jayabaya menguasai Mamenang, ia diharapkan kepada berbagai pembesar, misalnya Dyaksa, Upapati dan Para Panji yang memahami undang undang. Dari sejarah tersebut, tampak sangat nyata bahwa Para Panji merupakan pembantu dari para Upapati di dalam melakukan sistem pengadilan di berbagai daerah.

Pangkat Panji tersebut masih dikenal luas pada kesultanan Yogyakarta hingga tahun 1940. Dan Para Panji di kesultanan Yogyakarta ditugaskan untuk pengadilan. Sehingga itu tidak berbeda dengan Para Panji yang ada di zaman kerajaan Kediri.

Lembaga peradilan yang terdapat di kerajaan tersebut memiliki tanggung jawab kepada raja secara langsung. Namun, adanya silang sengketa yang terjadi dan menyangkut raja serta keluarganya memakai peradilan yang khusus, sehingga adanya intervensi serta kontaminasi terhadap hasil keputusan peradilan tersebut bisa dihindari.

Di dalam hal ini, raja memiliki staf hukum yang sudah professional dan mumpuni serta tidak diragukan secara integritas dan juga kredibilitasnya.

Hukum Positif dan Budaya Simbolik

Di era pemerintahan Prabu Jayabaya, prinsip di dalam melaksanakan kenegaraan dibagi menjadi dua jenis, pertama adalah hukum positif dan kedua adalah budaya simbolik. Hukum positif adalah hukum yang diberlakukan berdasarkan kepada peraturan yang sudah tertulis dan itu sudah mendapatkan kesepakatan bersama.

Umumnya, hukum jenis ini mempunyai sifat praktis dan juga teknis serta mikro. Seluruh transaksi dan juga berbagai sektor kehidupan seperti dagang, jual beli, politik, ekonomi, karier, birokrasi, organisasi dan juga perkawinan pun diatur dengan sangat rinci. Berikut pelanggaran hukum serta dendanya juga ditetapkan dengan sangat detail.

Selain menggunakan hukum positif, Prabu Jayabaya juga memakai pendekatan budaya simbolik di dalam menata masyarakat kerajaan Kediri pada masa itu. Untuk dapat menunjang program ini, banyak pujangga yang diperintahkan untuk membuat karya tulis.

Adapun tujuan dari perintah ini adalah agar segenap aparat serta rakyat menjadi patuh kepada norma dan juga susila yang ada. Dan apabila terjadi suatu pelanggaran, maka hukuman atau sanksinya memiliki sifat spiritual atau gaib. Di antar pujangga yang diperintahkan untuk menuliskan karya dan kitab spiritual tersebut adalah Empu Sedah dan Empu Panuluh.

Empu Sedah merupakan penyusun dari kitab Kakawin Batarayudha di tahun 1079 Saka atau tepatnya tahun 1157 Masehi. Adapun sangkalannya berbunyi Sangha Kuda Suddha Candrama. Hanya saja, ia meninggal sebelum karya tersebut berhasil diselesaikan. Dan kitab Kakawin Batarayudha dipersembahkan untuk Prabu Jayabaya, Mapanji Jayabhaya, Jayabhaya Laksana atau Sri Warmeswara.

Tingkat kecerdasan dari rakyat tentu saja berbeda-beda sehingga kadangkala rakyat kurang bisa memahami hukum positif yang disusun oleh para elit Negara. Raja Kediri sangatlah memahami kondisi ini. Maka dari itu, supaya suasana harmonis menjadi tercipta, maka di ciptakanlah suatu nasihat simbolis yang memiliki bau mistis.

Pada faktanya, pesan pesan spiritual dari Prabu Jayabaya yang kemudian dibungkus di dalam ramalan gaib dipercaya oleh mayoritas masyarakat sebagai suatu pengiring dan pelengkap hukum positif. Sehingga budaya yang sifatnya simbolik tersebut akhirnya bisa mendorong terciptanya ketertiban sosial.

Prabu Jayabaya sendiri merupakan seorang raja besar ibadat Dewa Keadilan yang angejawantah ing madyapada. Ia benar-benar menjadi seorang raja yang sangat bijaksana dan berwibawa. Hal itu tentu saja membuat seluruh jagat raya memperoleh ketentraman dan juga kemuliaan yang membuat kerajaan Kediri di masa tersebut mengalami puncak keemasan dan kejayaan.

Selama pemerintahan dan tata praja berada di bawah kendali Prabu Jayabaya, Nusantara benar-benar menjadi bagian yang diperhitungkan di kawasan Asia Tengah, Asia Tenggara dan juga Asia Selatan. Ia berhasil mewujudkan Negara yang Padhang Jagadem Gedhe Obore, Dhuwur Kakuse, Adoh Kucarane, Amouh Kawibawane.

Sehingga, masyarakat pun berhasil merasakan Negara yang Gamah Ripah Loh Jinawi, Tata Tentrem Karta Raharja. Sedangkan konsep Saptawa ia jadikan sebagai suatu program utama, yakni:

  • Wastra atau sandang
  • Wareg atau pangan
  • Wisma atau papan
  • Wasis atau pendidikan
  • Waras atau kesehatan
  • Waskita atau kerohanian
  • Wicaksana atau kebijaksanaan

Masyarakat Jawa benar-benar mempercayai bahwa Prabu Jayabaya senantiasa memiliki sikap yang arif dan bijaksana. Selain itu, ia juga sangat menjunjung tinggi adanya hukum yang berlaku. Sehingga tidak mengherankan jika semua kalangan masyarakat bersatu dan mendukung pemerintahannya.

Adanya refleksi dari kearifan yang diwariskan oleh para leluhur raja Jawa kerap dijadikan sebagai referensi untuk membawa kebebasan Nusantara ini. Dan kebesaran serta kejayaan dari kerajaan kediri selain ditentukan oleh faktor gaya kepemimpinan rajanya yang senantiasa mengutamakan kepentingan umum, juga didukung oleh adanya kejelian aparat dalam menyusun undang undang dasar yang mampu mengikat semua warganya.

Kepatuhan semua pihak kepada undang undang telah memunculkan ketertiban pada kerajaan Kediri. Adapun aparat kerajaan sendiri terdiri dari pejabat sipil dan juga militer yang bekerja sejalan dengan amanat undang undang sehingga semua kebijakan pun mengarah kepada ketentraman dan kemakmuran rakyat.

Peninggalan Kerajaan Kediri

peninggalan kerajaan kediri
www.sekolahpendidikan.com

Terdapat beberapa prasasti dan juga berita asing yang bisa dijadikan sumber sejarah kerajaan Kediri. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Prasasti Banjaran berangka tahun 1052 M yang menjelaskan berita kemenangan Kerajaan Panjalu atas Jenggala.
  • Prasasti Hantang berangka pada tahun 1052 M yang menjelaskan keadaan Panjalu di era Jayabaya.
  • Prasasti Sirah Kenting dengan angka 1104 M yang di dalamnya berisi kabar pemberian hadiah tanah kepada para rakyat di desa oleh Jayawarsa.
  • Prasasti yang ditemukan di kawasan Tulungagung dan juga Kertosono yang isinya adalah perihal keagamaan yang asalnya dari Raja Bameswara.
  • Prasasti Ngantang tahun 1135 M yang di dalamnya menyebutkan bahwa Raja Jayabaya memberikan hadiah kepada rakyat di Desa Ngantang berupa sebidang tanah yang dibebaskan dari tanggungan pajak.
  • Prasasti Jaring tertulis tahun 1181 M dari seorang raja bernama Gandra yang bertuliskan sejumlah nama dari pejabat dengan memakai nama hewan misalnya Tikus Jinada dan juga Kebo Waruga.
  • Prasasti Kamulan tertulis 1194 M yang di dalamnya memuat masa pemerintahan dari Kertajaya dimana saat ini Kerajaan Kediri berhasil mengalahkan musuh yang sudah memusuhi kawasan istana Katang Katang.
  • Candi Penataran yang merupakan salah satu candi termegah dan terluas di Jawa Timur. Candi ini terletak di kawasan Lereng Barang Daya Gunung Kelud, tepatnya di utara Blitar di ketinggian 450 meter di atas permukaan air laut. Dari adanya prasasti yang kebetulan tersimpan pada candi ini, maka candi ini kemungkinan dibangun di era Raja Srengga dari kerajaan Kediri sekitar tahun 1200 Masehi kemudian berlanjut sampai dengan masa Wikramawardhana yang merupakan Raja Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1415.
  • Candi Gurah yang letaknya ada di kecamatan Kediri Jawa Timur. Di tahun 1957 pernah ditemukan sebuah candi yang berjarak kurang lebih 2 km dari sebuah situs Tondowongso yang dikenal dengan nama candi gurah. Akan tetapi, lantaran kekurangan dana, akhirnya candi itu dikubur kembali.
  • Candi Tondowongso yang merupakan situs temuan jaman purbakala yang kebetulan ditemukan di awal tahun 2007 tepatnya di Dusun Tondowongso, Kediri, Jawa Timur. Situs yang memiliki luas lebih dari satu hektar ini merupakan temuan paling besar untuk periode sejarah klasik Indonesia di dalam 30 tahun terakhir. Ini sejak ditemukannya kompleks percandian Batujaya. Sekalipun Prof. Soekomo pernah menemukan sebuah arca di lokasi yang sama tahun 1957. Temuan situs ini diawali dengan ditemukannya suatu arca oleh beberapa pengrajin batu bata setempat. Jika disaksikan dari bentuk dan juga gaya tatanannya, maka situs ini diyakini sebagai peninggalan dari kerajaan Kediri awal, yakni di abad ke XI. Ini merupakan masa masa awal perpindahan politik dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Selama masa ini, kerajaan Kediri dikenal dari beberapa karya sastra akan tetapi tidak banyak diketahui bentuk peninggalan yang berwujud hasil pahatan ataupun bangunan.
  • Arca Buddha Vajrasattva yang asalnya adalah dari jaman Kerajaan Kediri di abad X/XI. Saat ini, arca tersebut menjadi salah satu koleksi di museum fur indische kunst Berkin Dahlem Jerman.
  • Prasasti Galunggung yang merupakan sebuah prasasti dengan tinggi sekitar 160 cm dan juga lebar atas 80 cm serta lebar bawah 75 cm. Prasasti jenis ini letaknya ada di Rejotangan Tulungagung. Sedangkan di sekitar prasasti ini ada sejumlah tulisan yang menggunakan huruf Jawa Kuno. Tulisan tersebut berjajar dengan sangat rapi dengan jumlah baris mencapai 20 baris dan hingga hari ini masih bisa dilihat dengan mata. Sementara di sisinya yang lain, ada juga prasasti dengan beberapa huruf yang telah hilang lantaran termakan oleh usia. Dan pada bagian depan, ada suatu lambang yang bentuknya lingkaran dan di bagian tengah lingkaran tersebut ada gambar persegi panjang dengan beberapa logonya. Ada juga tulisan angka 1123 C di salah satu bagian prasasti.
  • Candi Tuban yang dibuat pada tahun 1967 ketika tragedi 1965 melanda kawasan Tulungagung. Saat itu terjadi yang namanya aksi Ikonoklasik yang merupakan aksi menghancurkan berbagai ikon kebudayaan yang berbagai benda yang dianggap sebagai berhala. Candi Mari gambar pun luput dari perusakan tersebut lantaran ada seorang petinggi desa yang melarang untuk merusak candi ini dan juga kawasan yang dianggap angker. Massa pun mengganti namanya menjadi candi Tuban karena candi ini letaknya ada di sebuah dukuh bernama Tuban, Desa Domasan, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung. Letak candi ini ada sekitar 500 meter dari Candi Mirigambar. Dan candi Tuban ini hanya tersisa bagian kaki candinya saja. Dan sesudah dirusak, candi satu ini akhirnya dipendam dan saat ini di bagian atasnya sudah berdiri kandang kambing, ayam dan juga bebek.

Berdasarkan pendapat dari Pak Suyoto, apabila warga berkeinginan untuk kembali menggali candi tersebut, maka kedalaman tanahnya bisa satu sampai dengan satu setengah meter sehingga pondasinya bisa tersingkap dan tentu saja masih utuh.

Adapun perusakan kepada Candi Tuban sendiri adalah disebabkan karena candi ini menggambarkan seorang lelaki bernama Aryo Damar di dalam legenda Angkling Dharma yang apabila lelaki tersebut dihancurkan, maka itu dianggap sebagai sebuah kemenangan.

  • Prasasti Panumbangan. Pada tahun 1120 tanggal 2 Agustus Raja Bameswara mengeluarkan sebuah prasasti bernama Panumbangan yang isinya adalah permohonan penduduk desa Panumbangan supaya mereka ditulis di atas daun lontar kemudian ditulis ulang di bagian atas batu. Prasasti itu isinya adalah penetapan desa Panumbangan sebagai Sima Swatatra oleh saja Kediri sebelumnya yang dimakamkan di Gajapada. Adapun raja sebelumnya yang dimaksud tersebut adalah Sri Jayawarsa.
  • Prasasti Talan atau Munggut yang letaknya ada di kawasan Dusun Gurit Kabupaten Blitar. Adapun rangka dari prasasti ini memiliki tahun 1058 Saka atau 1136 Masehi. Adapun cap pada prasasti ini memiliki bentuk seperti Garudhamukalancana di bagian atas prasasti yang memiliki bentuk badan manusia dengan kepala burung garuda dan bersayap. Adapun isi dari prasasti ini adalah berkaitan dengan anugerah Sima kepada desa Talan yang masuk ke dalam wilayah Panumbangan lalu memperlihatkan prasasti di atas daun lontar dengan adanya cap kerajaan Garudamukha yang telah diterima dari Bhatara Guru tahun 960 Saka atau 27 januari 1040 M. Kemudian desa Talan dan juga wilayahnya ditetapkan sebagai Sima yang terbebas dari kewajiban membayar pajak sehingga mereka pun memohon supaya prasasti tersebut dipindahkan di atas batu dengan cap kerajaan Narasingha. Kemudian Raja Jayabaya pun mengabulkan keinginan warga Talan lantaran kesetiaan mereka yang sangat tinggi kepada sang Raja dan raja pun menambah anugerah dengan berbagai hak istimewa kepada mereka.

Peninggalan Kitab Kerajaan Kediri

peninggalan kitab kerajaan kediri
sejarahlengkap.com

Di era kerajaan Kediri, bidang karya sastra memang berkembang dengan sangat pesat sehingga tidak heran jika banyak karya yang berhasil dibuat pada masa tersebut. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Kitab Wertasancaya yang dikarang oleh Empu Tan Akung. Adapun isi dari kitab ini adalah petunjuk mengenai cara untuk membuat syair yang baik dan benar.
  • Kitab Smaradhahana yang dikarang oleh Empu Dharmaja. Adapun isi dari kitab ini adalah pujian yang disanjungkan kepada raja sebagai titisan dari Dewa kama. Di dalam kitab ini juga disebutkan bahwa nama ibu kota kerajaan ini adalah Dahana.
  • Kitab Lubdaka yang dikarang oleh Empu Tan Akung yang isinya adalah kisah dari Lubdaka sebagai salah seorang pemburu yang harusnya masuk neraka. Namun karena ia memiliki pemujaan yang sangat istimewa. Akhirnya ia ditolong oleh Dewa dan rohnya berhasil diangkat ke Surga.
  • Kitab Kresnayana yang dikarang oleh Empu Triguna. Kitab ini isinya adalah riwayat Kresna yang merupakan anak nakal namun senantiasa dikasihi oleh banyak orang karena ia adalah orang yang sakti dan suka menolong.
  • Kitab Samanasantaka yang ditulis oleh Empu Monaguna. Di dalam kitab ini dikisahkan bahwa seorang Bidadari Harini yang sangat terkenal untuk Begawan Trenawindu.
  • Kitab Baharatayuda yang dibuat oleh Empu Sedah dan juga Empu Panuluh.
  • Kitab Gatotkacasraya dan juga Hariwangsa yang ditulis oleh Empu Panuluh.

Kehidupan Politik dan Pemerintahan Kerajaan Kediri

Kehidupan Politik dan Pemerintahan Kerajaan Kediri
farah-kharisma.blogspot.com

 

READ  Ulasan Lengkap Mengenai Sumber Daya Energi Mulai dari Pengertian, Sifat, Bentuk Sampai Dampaknya

Pemerintahan Mapanji Garasakan tidaklah lama. Ia kemudian digantikan oleh Raja bernama Mapanji Alanjung yang memimpin sejak tahun 1052 sampai dengan 1059 M. lalu Mapanji Alanjung tersebut digantikan oleh Sri Maharaja Samarotsaha.

Kemudian, antara Panjalu dan juga Jenggala terjadi pertempuran secara terus menerus yang menyebabkan tidak adanya berita atau keterangan yang jelas mengenai dua kerajaan ini selama enam puluh tahun. Ketidakjelasan tersebut tetap terjadi sampai munculnya nama Raja Bameswara yang memimpin sejak tahun 1116 sampai dengan 1135 Masehi dari Kediri.

Di era tersebut, ibu kota dari Panjalu sudah di pindah dari Daha ke kawasan Kediri sehingga sejak saat itu kerajaan ini lebih dikenal dengan sebutan kerajaan Kediri. Raja Bameswara sendiri memakai lencana kerajaan yang berbentuk tengkorak dengan taring di atas bulan sabit yang biasa dikenal dengan Candrakapala.

Sesudah Bameswara turun tahta, maka ia pun digantikan oleh Raja Jayabaya yang dalam masa pemerintahannya tersebut mampu mengalahkan kerajaan Jenggala. Raja-raja Kediri sejak Jayabaya adalah sebagai berikut ini. Di tahun 1019 Masehi, Airlangga telah dinobatkan sebagai raja di kerajaan Medang Kamulan.

Ia pun berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan kembali kewibawaan Medang Kamulan. Sesudah kewibawaan tersebut berhasil dipulihkan, maka Airlangga pun memindahkan pusat Pemerintahan yang awalnya di Medang Kamulan ke Kahuripan.

Sehingga, karena jering payahnya tersebut, maka Medang Kamulan berhasil mendapatkan kemakmuran dan kejayaannya. Menjelang akhir hayat Airlangga, ia pun memutuskan untuk mundur sebagai raja dan kemudian bertapa yang akhirnya disebut dengan Resi Gentayu. Ia pun meninggal dunia pada tahun 1049 M.

Adapun pewaris tahta dari kerajaan Medang Kamulan sendiri semestinya adalah seorang putri bernama Sri Sanggramawijaya yang dilahirkan oleh seorang permaisuri. Akan tetapi, lantaran ia memilih untuk menjadi pertapa, akhirnya tahta kerajaan pun beralih kepada putra Airlangga yang lahirnya dari seorang selir.

Dan untuk menghindari adanya perang saudara, akhirnya Medang Kamulan dibagi menjadi dua, pertama adalah Kerajaan Jenggala yang memiliki ibu kota di Kahuripan dan kedua adalah Jenggala yang memiliki ibu kota di Daha. Nama lain dari Jenggala di sini adalah Panjalu. Namun, ternyata usaha tersebut justru mengalami kegagalan.

Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa pada abad ke 12, Kediri yang termasuk kerajaan subur dan juga makmur ternyata tidak sepenuhnya damai karena adanya bayang-bayang Jenggala yang ada di dalam posisi lemah. Inilah yang menjadikan suasananya gelap, dipenuhi kemunafikan dan adanya pembunuhan terhadap para raja dan pengeran di antara dua Negara tersebut.

Akan tetapi, akhir dari perseteruan ini adalah kekalahan pada Jenggala yang kemudian menjadikan satu dari kedua kerajaan tersebut di bawah kekuasaan Kediri.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Kediri

kehidupan ekonomi kerajaan kediri
pintasilmu.com

Prabu Jayabaya memiliki strategi memakmurkan rakyatnya dan ini memang sangat mengagumkan. Kerajaannya yang memiliki ibu kota di Daharapura yang terletak di kawasan kaki gunung Kelud memiliki tanah subur dan menghasilkan tanaman hijau yang melimpah. Sehingga, pada masanya roda ekonomi kerajaan Kediri mengalami peningkatan dan kelancaran.

Dari segi ekonomi, berbagai sumber yang ada menyebutkan bahwa sektor ekonomi kerajaan Kediri sumbernya adalah usaha peternakan, perdagangan, dan juga pertanian. Kediri memang sangat terkenal sebagai salah satu kawasan penghasil beras yang melimpah, menanam kapas dan juga memelihara ulat sutra.

Dengan begitu, jika dilihat dari sisi ekonomi, maka kerajaan Kediri terbilang sangat makmur. Hal ini bisa dibuktikan dari Negara yang mampu memberikan penghasilan tetap dan terjamin kepada para pegawai dan rakyatnya sekalipun saat itu hanya dibayar dengan hasil bumi. Ini merupakan keterangan yang didapatkan dari Kitab Chi-Dan-Chi dan kitab Ling Wai Tai ta.

Untuk bisa menopang penghasilan pada kerajaan, kerajaan Kediri saat itu memberlakukan sistem pajak. Berbagai komoditas dagang misalnya emas, perak, daging, beras, dan juga kayu cendana. Dan bentuk pajaknya sendiri adalah berupa kayu, palawija dan juga beras.

Kehidupan Agama dan Spiritual Kerajaan Kediri

kehidupan agama dan spiritual kerajaan kediri
sejarahkerajaankediriindonesia.blogspot.com

Adapun agama yang berkembang di kerajaan Kediri saat itu adalah agama Hindu dengan aliran Waisnawa (Airlangga Titisan Wisnu). DI dalam bidang spiritual, kerajaan ini memang bisa dibilang sudah sangat maju. Ada berbagai tempat ibadah yang dibangun di mana-mana.

Pada guru kebatinan pun juga memperoleh tempat yang sangat terhormat. Bahkan, prabu juga sering melakukan tirakat dan juga tata brata atau semedi. Raja pun juga gemar melakukan meditasi di hutan yang sepi. Dengan laku prihatin serta cegah dhahar lawan guling, mengurangi porsi makan dan tidur.

Hal itu nampak dijadikan sebagai kegiatan ritual sehari-hari. Maka tentu saja bukanlah hal yang mengherankan apabila Prabu Jayabaya merupakan seseorang yang tahu sebelum terjadi atau uang dalam bahasa Jawanya disebut ngerti sadurunge winarah. Ia pun bisa meramal owah gingsire jaman. Dan ramalan yang dibuat oleh prabu tersebut sangat relevan untuk membaca keadaan jaman saat ini.

Prabu Jayabaya pun memerintah di antara tahun 1103 sampai dengan 1157. Sang prabu juga tidak tanggung tangguh memberikan dukungan spiritual dan juga metarial di dalam hal hukum dan juga pemerintahan. Ia memiliki visi yang sangat jauh dan sangat merakyat. Inilah yang membuat prabu Jayabaya dikenang sepanjang masa. Tidak hanya itu, ia adalah orang yang sangat adil dan juga bijaksana.

Kehidupan beragama kerajaan Kediri sudah diatur oleh undang undang. Bahkan, setiap bab memuat pasal yang sudah digolongkan jenisnya. Sehingga ada sistematika tersendiri dalam hal penyusunannya. Dan sudah bisa dibayangkan bagaimana susunan tersebut mengikuti sistem tertentu. Adapun kitab hukum perundang undangan tersebut disusun sebagaimana berikut ini:

Bab I : Sama beda dana denda, isinya adalah ketentuan diplokmasi, aliansi, kontribusi serta sanksi.

Bab II : Astadusta yang isinya adalah sanksi atas delapan jenis kejahatan yang meliputi pemerasan, penipuan, pencurian, pembakalan, penindasan dan juga pembunuhan.

Bab III : Kawula yang isinya adalah hak hak dan juga kewajiban yang dimiliki oleh masyarakat sipil.

Bab IV : Astacorah yang isinya adalah mengenai delapan macam penyimpangan administrasi kenegaraan.

Bab V : Adol-Atuku yang isinya adalah hukum perdagangan.

Bab VII : Gadai atau Sanda yang isinya adalah mengenai tata cara mengelola lembaga pengadaian.

Bab VIII : Utang piutang yang isinya adalah aturan mengenai pinjam meminjam.

Bab IX : Titipan yang isinya adalah mengenai sistem lumbung dan juga penyimpanan barang.

Bab X: Pasok Tukon yang isinya adalah mengenai hukum perhelatan.

Bab XI : Kewarangan yang isinya adalah hukum perkawinan.

Bab XII : Paradara yang isinya adalah hukum dan juga sanksi tindakan asusila.

Bab XIII : Drewe Kaliliran yang isinya adalah mengenai sistem pembagian warisan.

Bab XIV : Wakparusya yang isinya adalah mengenai sanksi penghinaan dan juga pencemaran nama baik.

Bab XV : Denpararusya yang isinya adalah sanksi terhadap pelanggaran administrasi.

Bab XVI : Kagelehan yang isinya adalah sanksi kelalaian yang bisa menyebabkan adanya kerugian publik.

Bab XVII : Atukaran yang isinya adalah sanksi karena menyebarkan adanya permusuhan.

Bab XVIII : Bumi yang isinya adalah tata cara pemungutan pajak.

Bab XX : Dwilatek yang isinya adalah sanksi karena melakukan kebohongan publik.

Kehidupan Sosial dan Budaya

kehidupan sosial dan budaya
duutchman.blogspot.com

Keadaan masyarakat di Kediri sendiri memang sudah sangat teratur. Penduduknya juga sudah menggunakan kain bahkan hingga pada bagian bawah lutut, rambut yang di urai dan juga memiliki hunian yang rapi dan bersih. Di dalam hal perkawinan, keluarga dari pihak pengantin wanita menerima mas kawin dari pihak pria berupa emas. Dan orang-orang yang sakit meminta kesembuhan kepada dewa dan juga Buddha.

Raja juga memiliki perhatian yang sangat tinggi kepada para rakyatnya. Hal ini terbukti dari adanya kitab Lubdaka yang isinya adalah mengenai kehidupan sosial dan juga masyarakat yang ada pada saat itu. Dan saat itu, tinggi ataupun rendahnya derajat serta martabat seseorang bukan dilihat dari pangkat dan harga benda yang dimiliki, namun ditentukan berdasarkan pada moral serta tingkah laku.

Raja juga amat menghargai dan juga menghormati hak segenap rakyatnya. Sehingga, rakyat pun menjadi lebih leluasa di dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Di era Kediri, keadaan karya sastra juga berkembang dengan sangat pesat. Terbukti dari banyaknya karya yang dihasilkan pada masa tersebut.

Di era pemerintahan raja Jayabaya, ia pernah memberi perintah kepada Empu Sedah untuk mengubah kitab Bharatayuda ke dalam bahasa Jawa Kuno. Karena pekerjaan itu tidak selesai sebelum Empu Sedah meninggal, maka penerjemahan tersebut kemudian dilanjutkan oleh Empu Panuluh.

Di dalam kitab tersebut nama Jayabaya disebutkan beberapa kali sebagai bentuk sanjungan untuk sang raja pada saat itu. Kitab tersebut memiliki angka tahun di dalam bentuk tulisan Candrasangkala, Sangakuda Suddha Candrama tahun 1070 Saka atau tepatnya 1157 M. Di samping itu, Empuh Panuluh ternyata juga menuliskan kitab berjudul Gatutkacasraya dan juga Hariwangsa.

  • Karya di Bidang Hukum Tata Negara

Di masa pemerintahan Prabu Jayawarsa, hiduplah seseorang bernama Empu Triguna di kerajaan Panjalu tahun 1026 Saka atau 1104 Masehi. Prabu Jayawarsa merupakan patron untuk para pujangga di dalam mengembangkan berbagai dinamika ilmu hukum dan juga tata praja.

Sehingga, banyak cendekiawan pada masa itu yang diberikan fasilitas untuk mengaktualisasikan idealisme mereka. Pernyataan tersebut kemudian didukung dan sesungguhnya telah digarisbawahi oleh pujangga dahulu. Karena hukum dan juga tata praja sendiri sudah diciptakan oleh Empu Triguna dengan judul Kakawin Kresnayana yang sebagian besar isinya adalah ilmu hukum dan juga pemerintahan.

Sang prabu sangatlah peduli dengan kehidupan ilmu pengetahuan dan ini menjadi tanda bahwa ia memang seorang yang humanis. Empu Manoguna merupakan teman seangkatan dari Empu Triguna. Keduanya juga merupakan pujangga istana di era Prabu Jayawarsa Kerajaan Kediri.

Kedua nama, yaitu Empu Manoguna dan Empu Triguna memiliki bagian nama yang mirip dan kemungkinan besar keduanya memang memiliki hubungan kekerabatan atau seperguruan. Intinya, kedua empu ini merupakan konsultan dan juga penasihat utama dari Prabu Jayawarsa.

Karya hukum dan juga tata praja yang diciptakan oleh Empu Manoguna merupakan kitab berjudul Kakawin Sumanasantaka. Ini merupakan cerita yang sumbernya adalah dari pujangga besar India bernama Sang Kalisada. Harus diakui memang bahwa pengaruh dari India ke dalam hidup masyarakat Jawa Kuno memang cukup besar, baik yang cenderung ke faham Hindu atau Budha.

Hal ini sangat terlihat dari ungkapan yang terdapat di dalam bahasa Sansekerya yang masuk dalam pengetahuan di Jawa Kuno. Asal dari kata Sumanasantaka adalah sumanasa yang artinya adalah kembang dan antaka yang artinya adalah matu. Adapun Serat Sumanasantaka sendiri menceritakan kebijaksanaan salah seorang raja yang berhasil memimpin rakyatnya.

Sedangkan untuk karya hukum dan juga tata praja Empu Dharmaja yang paling terkenal adalah Kakawin Smaradahana dan juga Kakawin Bomakawya. Kitab Smaradahana sendiri menceritakan Batara Kamajaya yang memiliki sifat agung. Sedangkan Kitab Bomakawya di dalamnya menurut Teuw menceritakan mengenai cara untuk memimpin bagi seorang pemimpin berdasarkan kepada nilai kedamaian dan juga keadilan.

Kejayaan Kerajaan Kediri

kejayaan kerajaan kediri
ibnuasmara.com

Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan dan keemasan ketika kerajaan ini dibawah pimpinan Prabu Jayabaya. Sedangkan kesuksesan kerajaan juga didukung oleh berbagai cenderkiawan di dalamnya seperti Empu Sedah, Empuh Panuluh, Empu Darmaja, Empu Triguna dan juga Empu Manoguna.

Mereka merupakan Jalma Sulaksana yang dianggap sebagai manusia paripurna dengan derajat oboring jagad raya. Kejayaan peradaban yang diraih di masa kepemimpinan Prabu Jayabaya sendiri dibuktikan dengan munculnya kitab-kitab hukum dan juga kenegaraan seperti yang sudah dihimpun dalam kitab Kakawin Bharatayuda oleh empu Sedah dan Empu Panuluh.

Gathotkacasraya dan juga Hariwangsa oleh Empu Panuluh yang sampai saat ini dijadikan sebagai warisan ruhani yang mutunya sangat tinggi. Ketika kerajaan Kediri mengalami puncak kejayaan di masa Prabu Jayabaya, daerah kekuasaan yang dimiliki saat itu semakin luas dari kawasan Jawa Tengah sampai hampir seluruh pulau Jawa.

Di samping itu, pengaruh dari kerajaan Kediri juga sampai kepada wilayah Pulau Sumatera yang kata itu dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya. Kejayaan di masa tersebut semakin meningkat kuat dengan adanya catatan dan juga kronik Cina tahun 1178 M yang isinya adalah negeri paling kaya di era kejayaan kerajaan Kediri adalah Raja Sri Jayabaya.

Tidak sebatas daerah kekuasaannya yang meluas dan besar, namun juga seni sastra di Kediri yang memperoleh banyak sekali perhatian. Dengan begitu, kerajaan Kediri di era tersebut semakin disegani.

Runtuhnya Kerajaan Kediri

runtuhnya kerajaan kediri
alimustikasari.com

Kerajaan Kediri atau Panjalu mengalami keruntuhan di masa pemerintahan Kertajaya yang dikenal dengan sebutan Dandang gendis. Sebagaimana dikisahkan di kitab Pararaton dan juga Negarakretagama bahkan pada tahun 1222, Kertajaya tengah berselisih melawan para kaum brahmana.

Di masa pemerintahannya, kondisi Kediri kemudian menjadi tidak aman yang menjadikan menurunnya kestabilan dari kerajaan. Hal tersebut disebabkan karena maksud dari raja Kertajaya yang ingin mengurangi hak dari kaum brahmana. Hal tersebut akhirnya mendapatkan pertentangan dari kaum brahmana karena keadaan mereka di Kediri menjadi tidak aman.

Akhirnya, para kaum brahmana tersebut lari dan memohon bantuan kepada Tumapel. Sedangkan raja Tumapel atau Ken Arok dengan memperoleh dukungan dari kaum Brahmana, akhirnya menyerang Kediri. Akhirnya, kedua pasukannya bertemu di kawasan Genter, Malang tahun 1222 M. Di dalam pertempuran tersebut, pasukan dari Kediri berhasil dihancurkan. Namun Raja Kertajaya berhasil meloloskan diri.

Dengan begitu, akhirnya kekuasaan kerajaan Kediri menjadi berakhir. Dan kawasan yang semua menjadi kekuasaan kerajaan Kediri menjadi kekuasaan kerajaan Tumapel. Dan sesudah itu, berdirilah kerajaan bernama Singasari dengan raja pertama yang bernama Ken Arok.

Kesimpulan

READ  8 Cara Membuat Bunga dari Kain Flanel Beserta Gambar [+Video]

Kerajaan Panjalu atau Kediri adalah sebuah kerajaan yang awalnya bagian dari kerajaan Kahuripan Jawa Timur, tepatnya di era Raja Airlangga yang menjadi raja sangat berpengaruh di masa tersebut. Kerajaan yang terletak di sekitar wilayah Kediri saat ini mencapai puncak kejayaan di masa raja Jayanaya yang sangat populer dengan ilmu dan juga keahlian beliau dalam meramal atau membaca masa depan.

Ia tidak sebatas pandai dalam meramal, namun juga pandai di dalam membawa rakyat Kediri yang ia pimpin kepada kemakmuran. Bahkan, ia mampu memimpin kerajaannya dengan sangat baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya peninggalan sejarah yang sampai hari ini sudah direkonstruksi.

Dan berbagai peninggalan tersebut tentu saja memberitahukan kepada manusia sekalian bahwa kerajaan Kediri sudah muncul pada masanya dengan berbagai hasil budaya dan karya sastra luar biasa dimulai dari sebuah kitab bernama Bharatayudha, Hariwangsa dan juga Gatotkacasraya.

Dan penting untuk dicatat pula bahwa pada masa itu, kerajaan Kediri tergolong kerajaan yang makmur dan mandiri. Bahkan, dalam sektor ekonomi termasuk Negara yang sangat berkecukupan dengan memberdayakan perdagangan, peternakan dan pertanian.

Adanya kehidupan yang makmur dalam sektor ekonomi tersebut ternyata juga berpengaruh kepada kehidupan sosial. Sehingga kehidupan sosial kerajaan Kediri juga tergolong makmur sejahtera. Hal itu disebabkan karena kerajaan Kediri dipimpin oleh seorang raja yang sangat bijaksana sehingga kehidupan masyarakatnya sangat berkecukupan mulai dari hal sandang, pangan dan juga papan.

Raja Jayabaya tidak hanya mampu melahirkan hal fisik saja, karena pada saat itu, ia juga sudah memberlakukan ketertiban dan juga hukum yang sangat jelas dan juga keras untuk semua rakyat Kediri. Meski kemakmuran tersebut tidak berlangsung lama lantaran masa kejayaan yang ada tersebut kemudian digantikan oleh masa kegelapan di era pemerintahan Kertajaya tahun 1222 Masehi.

Adanya perselisihan paham dan juga kericuhan yang terjadi di antara raja Kartajaya dan juga kaum Brahmana merupakan puncak dari berakhirnya kekuasaan kerajaan Kediri. Brahmana tidak sepakat terhadap kebijakan raja dan mereka pun meminta bantuan kepada Ken Arok yang saat itu tengah gencar melakukan ekspansi untuk kemudian mendirikan kerajaan bernama Singasari.

Sekalipun demikian, keberadaan kerajaan Kediri sendiri adalah bukti adanya eksistensi dan juga kemakmuran dari salah satu kerajaan yang terletak di Jawa Timur yang menjadi penerus Isyana. Dengan berbagai sektor yang mengalami kemajuan secara signifikan seperti dalam hal birokrasi, sosial, budaya, ekonomi dan juga agama.

Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan kerajaan Kediri. Bahwa sebuah kerajaan yang besar, membutuhkan perhatian yang besar pula. Selain itu, kerajaan yang besar juga harus dipertahankan dengan mempertimbangkan berbagai kebijakan yang dibuat agar ia tetap jaya dan terhindar dari kemunduran serta perselisihan. Dan ini sangat penting untuk dijadikan pelajaran berharga khususnya untuk Indonesia hari ini.

Demikianlah ulasan tentang kerajaan Kediri yang bisa dijadikan sebagai bahan bacaan untuk memperkaya pengetahuan Anda. Dengan membaca sejarah, tentu bisa dijadikan sebagai sebuah pemahaman bahwa di masa lampau sudah ada kejayaan yang ada di kerajaan Jawa.

Tinggalkan komentar